Cerita Hantu Pocong : Pocong Dipojok Jembatan

Sebelum memulai cerita ini, Perkenalkan dulu nama saya ardi, Cerita seram ini saya alami sendiri bersama ketiga teman saya yaitu Dayat, Wahyu dan Rudi.

Didesa kami terdapat sebuah jembatan yang sudah tua karena memang dibangun sejak jaman belanda dan belum pernah direnovasi, jembatan tersebut adalah jembatan satu-satunya penghubung desa kami dengan desa tetangga, Banyak cerita mistis yang dialami warga desa saya tentang penampakan hantu pocong yang sering berdiri diatas jembatan tersebut, dulunya disekitar jembatan tersebut memang bekas pemerkosaan gadis remaja yang mayatnya dibuang dibawah jembatan itu, sejak kejadian itu jika ada warga yang melintasi jembatan tersebut dimalam hari selalu diganggu oleh penampakan pocong yang minta tolong, selain penampakan hantu pocong juga sering ditemui penampakan nenek tanpa kepala yang sering muncul mengganggu warga desa kami disekitar jembatan itu.
Desa kami memang agak tertinggal dari desa-desa tetangga, masih sedikit penerangan jalan yang ada didesa kami, bahkan jika malam hari terlihat seperti desa mati yang memang pendudukny hanya sedikit.
Cerita Hantu Pocong : Pocong Dipojok Jembatan

Waktu itu tepatnya malam jum'at kliwon saya dan ketiga teman saya sedang asik nonton dangdut palapa didesa tetangga, saking asiknya kami nonton kami tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Dayat yang agak penakut memang sudah berkali-kali minta pulang karena untuk perjalanan pulangnya harus melewati jembatan tersebut.
Dayat : Di, buruan pulang.. ini sudah malam, saya takut Di lewatin jembatan angker itu
Saya : Kamu berisik amat sih yat, kalau mau pulang ya udah pulang duluan sana.
Wahyu : Si dayat ga bakalan berani pulang sendirian Di, biarin aja xixixixixi.. paling juga kalo dia nekat bakalan disamperin tu sama pocong jembatan itu hhhhhhhhhhhhh
Rudi : hhuzzzsssss, Kamu jangan becanda Yu, aku juga agak takut nih lewat jembatan itu pulangnya, apa kita nginep aja yuk disini dari pada pulang takut ketemu sama hantu pocong itu.
Saya : Kalo nginep malah nanti kita kena marah ma ibu kita Rud, besok kan kita masih masuk sekolah hhuuffttttt..
Dayat : Ya udah kita pulang sekarang aja... aku udah ketakutan nih.
Wahyu : Bentar lagi napa, jarang-jarang nih nonton dangdut palapa.
Kami memutuskan untuk tetap nonton acara dangdut sampai selesai, kira-kira hampir pukul 1 malam kami beranjak pulang, kami memang benar-benar terlena dengan acaranya sehingga sudah sangat larut malam kami baru beranjak pulang, wajah-wajah ketakutan sudah terlihat jelas pada raut muka kami, kami berjalan berhimpitan sambil sesekali melihat kekanan kiri untuk melihat kondisi suansa jalan.
Suasana malam itu benar-benar mencekam, sepanjang perjalanan yang ada hanya pohon-pohon jati dan pinus tanpa ada penerangan, perjalanan pulang kurang lebih setengah jam lagi dan untuk melewati jembatan itu pun masih jauh, tak ada seorangpun yang kami temui sepanjang perjalanan ini.
Dayat : Di, dingin banget nih(dayat membuka percakapan untuk mengusir rasa takutnya, tapi rasa dingin juga bukan hanya dirasakan oleh dayat karena saya juga merasakannya, sungguh suasana yang aneh)
Saya : iya yat, kok bisa jadi dingin begini ya.. perasaan tadi waktu nonton dangdutan tu biasa-biasa aja deh... kamu kedinginan ga Yu???
Wahyu : iya di, sama.....
(saya melihat ada gelagat-gelagat aneh pada diri Rudi yang dari tadi cuma diam saja tanpa berani menoleh kekanan kiri, pandangannya fokus kedepan, mukanya kelihatan pucat)
Saya : Rud, kamu kenapa kok kliatanya pucat banget.
(rudi diam saja hingga dia minta istirahat sejenak di pos kampling yang kebeneran berada didekat jalan yang kami lewati)
Rudi : Di, tadi aku liat kelebatan dipohon pinus yang tadi kita lewati Di, makanya aku ga berani menoleh kesana lagi, perasaan aku ga enak Di, kayak ada yang ngikutin kita.
Saya : Tenangin pikiran kamu aja dulu Rud, terus nanti kita jalan lagi, Sebentar lagi kita lewati jembatan itu, banyakin berdoa moga aja ga terjadi apa-apa.
Kami pun melanjutkan perjalanan setelah pikirin kami agak tenang, saat-saat yang kami takutkan pun tiba, kami sampai pada jembatan tua itu.
Suansanya semakin mencekam, ditambah lagi bunyi hewan-hewan malam yang menambah keangkeran jembatan tua itu, Sesaat kami menapakkan kaki di jembatan itu tidak terjadi apa, tak ada seorangpun orang yang melintas selain kami, sepanjang jembatan itu kami membaca ayat-ayat al qur'an semampu kami meski semakin melangkah, kami semakin takut.
Sayup-sayup diujung jembatan terlihat sesosok nenek-nenek yang sedang berjalan kearah kami, tapi kayaknya hanya saya yang melihat, semakin dekat semakin jelas sosok nenek-nenek yang sedang berjalan tertatih-tatih, keringat dingin pun  keluar dibadan saya ketika terlihat jelas nenek-nenek tua itu berjalan tanpa kepala.
Saya tak mampu berjalan, untuk berbicara pun susah ketika Rudi bertanya apa yang terjadi.

Rudi : Kamu kenapa Di, muka kamu pucat banget...
Saya : ssssssssseeeeeettt
ssssssssssttttttt

Kami diam sejenak ditengah-tengah jembatan, tiba-tiba nenek itu hilang entah kemana sebelum sempat mendekati kami.
Tiba-tiba dengan kencangnya si dayat teriak poooooccoooooooooonnnggggggg sambil lari terbirit-birit, saya pun ikut lari demikian juga dengan Rudi dan wahyu. Kami lari secepat mungkin tanpa memikirkan satu dengan lainnya hingga saya sampai duluan dirumah warga, disusul dayat, kemudian Rudi dan wahyu.

Dirumah salah satu warga, Dayat bercerita melihat sosok pocong tepat dibelakangnya ketika dayat menoleh kebelakang, muka yang penuh darah dan tanpa bola mata disertai bau yang sangat amis membuat dayat teriak dan lari ketakutan, setelah kejadian itu kami kami tak berani lagi melintasi jembatan angker itu pada malam hari. (diangkat dari kisah nyata sabahat saya).
Share This :

Related Post



sentiment_satisfied Emoticon