Penampakan kuntilanak dan Pocong di Sendang Tiga Warna

Pocong di Sendang Tiga Warna-Perkenalkan nama saya amin dari desa eretan wetan, kabupaten XXX. saya masih berumur belasan tahun waktu kejadian melihat pocong dan saat itu saya masih sudah cari rumput setelah pulang sekolah hingga menjelang maghrib.
Saya menjalani rutinitas mencari rumput ditemani sahabat karib saya yang bernama parjo, biasanya sehabis mencari rumput, kami langsung mandi di sendang telu werno (tiga warna), saya sendiri tidak tahu kenapa disebut sendang tiga warna padahal warna air disendang itu hanya satu dan sangat jenih sekali.
Menurut cerita didesa kami, sendang telu werno tersebut sangat angker karena sering dijadikan pesugihan oleh orang-orang yang ingin mendapat kekayaan dengan cara singkat dan haram.

Dulu pernah kejadian ada bapak-bapak yang meninggal disendang telu werno, bapak-bapak itu meninggal karena tenggelam disendang itu, saya tak habis pikir kenapa bisa meninggal padahal sendang itu tempatnya dangkal, tapi menurut cerita yang beredar, bapak-bapak itu meninggal karena menjadi tumbal oleh orang yang mencari pesugihan disendang itu.

Semenjak kejadian itu, sering kejadi ganjil disendang itu seperti penampakan pocong, penampakan kuntilanak sedang mandi dan masih banyak lagi. sebenarnya sebelum kejadian bapak-bapak yang meninggal disedang itu juga tempat tersebut memang sudah angker, jarang ada warga yang berani beraktifitas dimalam hari disendang itu.

Siang itu, saya dan parjo mencari rumput seperti biasa. akan tetapi hingga menjelang sore kami hanya mendapat sedikit rumput untuk makan kambing peliharaan kami.

Saya : Jo, ini gimana nih.. hari ini dapet rumputnya cuma sedikit!, ntar saya dimarahin bapak kalo bawa rumput sedikit.
Parjo : Ya udah, kita cari rumput lagi saja biar dapet banyak?
Saya : Ini kan dah mau maghrib jo, ntar sampai dirumah takut terlalu gelap.
Parjo : Gelap juga ga pa-pa min, yang penting kita jangan mandi disendang itu kalo dah malam, ntar ada penampakan loh!!!!!!
Saya : Wahhhhhhhh gak asik lah jo kalo gak mandi disendang itu. soalnya dah terbiasa juga sih.
Parjo : Terserah loe aja lah, yang penting sekarang kita cari rumput lagi.
Saya : Ok sob..

Tak terasa kami mencari rumput hingga lewat waktu maghrib, kami buru-buru pulang setelah mendengar suara adzan.
Saya : Ayo jo kita pulang, dengar tuh!! dah adzan maghrib.
Parjo : Ayo min, biar kita cepat sampai di sendang, setelah mandi kita langsung pulang saja.

Sesampainya disendang memang sudah tidak ada siapa-siapa karena hari sudah menjelang malam, ada rasa takut saat kami memasuki area sedang itu, suasana mistis sangat terasa sekali, bahkan saat saya menginjakkan kaki disendang itu bulu kuduk saya langsung merinding, perasaan saya seperti ada yang mengikuti kami tapi tak terlihat.

Saya mencoba bersikap biasa-biasa saja agar parjo tidak ikut takut, tapi dilihat dari raut wajah parjo sepertinya dia juga merasakan apa yang saya rasakan.
Untuk mengusir rasa takut, saya mencoba bercengkrama dengan parjo, dan disela-sela pembicaraan kami tiba-tiba ada yang menimpuk kami dari arah atas kami. suara timpukan itu jatuh ke sendang dengan sangat keras yang membuat kami kelabakan karena kaget.

Saya : Astaghfirrlah... astaghfirllah..... Jo tadi siapa yah yang timpuk kita pake batu.
Parjo : Gua juga gak tau min, apa setan yah yang gak suka ada kita disini??
Saya : Kamu jangan nakut-nakutin Jo, buruan mandi yuk biar cepet pulang?.
Parjo : Ayo min.

Kami bergegas mandi agar bisa cepat meninggalkan sendang itu, dan baru saja kami berniat mandi terdengar suara cekikikan dari atas atas kami.
Pelan-pelan saya menoleh ke atas untuk melihat apa yang terjadi, dan........ astaghfirrlahh...astaghfirllah.... ada sesosok kuntilanak yang sedang duduk didahan pohon yang letaknya tepat diatas sendang itu.

Saya : Kuuuuuunnnntiiilllanaakkkkkkkkkkkkkk... Jo itu kuntilanakkkkkkkkk

Penampakan kuntilanak dan Pocong di Sendang Tiga Warna

Secepat kilat saya lari tanpa mempedulikan barang-barang bawaan saya, dan parjo juga ikut berlari. Setelah kami berlari agak jauh kami baru tersadar kalau kami belum memakai baju, kami memang mandi tak pake pakaian karena waktu itu saya masih kecil jadi tidak begitu malu.

Saya : Jo, baju sama karung rumput kita ketinggal nih? gimana dong?
Parjo : Udah biarin aja, besok kita ambil.
Saya : Ntar saya dimarahin bapak Jo?
Parjo : Lah tadi kan ada kuntilanak ??? emang kamu gak takut apa?
Saya : Baca-baca bissmillah saja Jo!!!!
Parjo : Ya udah kita balik lagi.

Kami kembali kesendang itu dengan berjalan berhimpitan karena rasa takut yang masih menghantui kami.
Sesampainya disendang itu, kami melihat kanan-kiri takut ada penampakan kuntilanak yang tadi. belum sempat kami mengambil baju dan karung rumput kami tiba-tiba ada yang jatuh dari arah pohon yang jatuh tepat didepan kami.
Terlihat dengan jelas oleh kami yang jatuh itu bungkusan putih panjang dengan warna yang kumal, kami saling terdiam, tak bisa berkata apa-apa.
Ingin berjalan kedepan tapi ada bungkusan putih yang sudah dipastikan oleh kami bahwa itu pocong.
Tiba-tiba bungkusan itu membalikan posisi memperlihatkan mukanya yang mengerikan, mata pocong itu tidak ada dan banyak darah dimuka pocong itu.

 Parjo : Pppooooocooongggggggggg

Penampakan kuntilanak dan Pocong di Sendang Tiga Warna

Kami berteriak-teriak sambil berlari, kamj berlari sekencang kami agar cepat sampai rumah tanpa memikirkan keadaan kami hingga kami sampai disalah satu rumah warga untuk meminta pertolongan.
Sesampainya disalah satu rumah warga, kami menceritakan kejadian yang kami alami dan mendapat wejangan untuk tidak keluar rumah saat menjelang maghrib karena setelah maghrib banyak jin bergentayangan, apalagi pergi ke sendang telu werno yang terkenal angker







Share This :

Related Post



sentiment_satisfied Emoticon