Tragedi Malam Berdarah Part 2

Tragedi Malam Berdarah-Selamat malam sobat cerita horor indonesia, cerita berikut merupakan sambungan dari cerita sebelumnya, silahkan klik link berikut ini buat sobat yang bekum membaca cerita part pertama Tragedi Malam Berdarah Part 1.

Gw dan Rudi Lari sekencang-kencangnya pergi menjauh dari kejaran dari salah satu perampok itu, Gw berlari hingga keluar dari rumah kakek itu hingga memasuki hutan lebat yang sangat sepi dan mencekam ini, Gw terpisah dari Rudi, Gw gak tau kemana Rudi berlari menyelamatkan diri karena Gw fokus berlari sekencang-kencangnya menghindari kejaran perampok itu.

Gw berhenti berlari saat dirasa sudah tidak ada tanda-tanda kejaran dari perampok itu, tapi saat Gw menyadari, Gw sudah berada dibawah pohon yang teramat besar dan mungkin sudah berumur ratusan tahun karena saat Gw mencoba memegang dari batang pohon tersebut ternyata sudah berlumut dan sangat lembab, Gw gak tau apa yang harus Gw lakukan lagi, ingin terus berjalan tetapi Gw gak tau kemana harus melangkah, Gw benar-benar ketakutan sekali, disamping takut ketemu perampok itu, Gw juga termasuk orang penakut, apalagi Gw sendirian dihutan yang sangat luas ini.

Tragedi Malam Berdarah

Untuk melepas lelah, Gw mencoba bersandar disalah satu pohon yang tidak terlalu besar, saat Gw merenung memikirkan apa yang harus Gw lakukan, tiba-tiba saja ada yang mencolek Gw dari belakang, bulu kuduk Gw langsung berdiri, perasaan Gw berkecambuk, Gw sangat takut sekali jika perampok itu menemukan keberadaan Gw tapi kenapa cuma colekkan saja tak ada suara apapun dari arah belakang.

Untuk menghilangkan rasa takut Gw, Gw mencoba melangkahkan kaki Gw menjauhi pohon tempat Gw bersandar itu tapi tiba-tiba saja Gw mendengar suara cekikian seorang perempuan dari arah atas pohon itu, Gw mencoba memberanikan diri menoleh kearah atas pohon itu, astaghfirllah.....astaghfirllah...astaghfirllah.... Gw melihat sesosok kuntilanak sedang duduk disalah satu batang pohon itu sambil tertawa kecikikikan dan menghadapkan muka yang mengerikan ke arah Gw, melihat pemandangan yang tak lazim itu, gw langsung saja berlari sekencang-kencangnya kearah rumah kakek itu.

Sesampainya dibelakang rumah kakek itu, Gw berhenti dan bersembunyi sambil melihat situasi disekitar rumah kakek itu, suasannya sangat hening sekali, Gw tidak melihat adanya suara atau teriakan dari perampok atau temen-temen Gw yang entah dimana keberadaanya. Gw beranikan diri masuk kerumah kakek itu lewat pintu belakang. Bagaimanapun juga, Gw harus menemukan ketiga temen Gw dan kembali kerumah bersama-sama dengan selamat.

Gw susuri sudut demi sudut ruangan yang ada dirumah kakek itu, saat Gw memasuki ruangan rahasia milik kakek tua itu, Gw sudah tidak menemukan temen Gw (Rara dan Rena) karena saat Gw dan Rudi berlari menjauhi perampok itu, Rara dan Rena masih tertinggal diruangan rahasia milik kakek itu dan keadaan ruangan itu juga sudah berantakan sekali, perhiasan dan seluruh barang mewah milik kakek itu sudah lenyap.

Pikiran Gw sudah tidak karuan lagi, Gw takut kalau Rara dan Rena sudah dibunuh oleh perampok itu. Gw ambil sebuah parang yang tergeletak diruangan itu, Gw bertekad menemukan temen-temen Gw apapun resikonya. Saat Gw menyusuri kamar milik kakek itu, Gw sudah tidak menemukan jazad kakek itu, yang tersisa hanya cercak darah yang masih segar beserta kondisi ruangan yang berantakan sekali.

Saat Gw akan melangkahkan kaki Gw keruang tamu, tiba-tiba saja Gw mendengar teriakan dan tangisan seorang perempuan dari arah pintu depan rumah, Gw yakin sekali kalau itu adalah suara dari temen Gw Rere, Gw langsung melangkah mengendap-endap menuju depan rumah.

Dan benar saja, saat gw sampai didepan rumah, Gw melihat ketiga temen Gw sudah diikat dan mulut mereka dilakban, tapi penampakan mengerikan lagi-lagi Gw lihat dengan kepala mata Gw sendiri, Gw melihat Rena sudah tergeletak ditanah dengan kondisi perut sudah terkoyak, usus-ususnya sudah berhamburan keluar, kedua matanya pun sudah hilang. Sepertinya mereka adalah seorang spikopat, pembunuh sadis. Melihat pemandangan mengerikan itu, Gw sangat geram sekali, hanya Gw yang masih bebas dan Gw yakin kedua temen Gw yang masih hidup pun nasibnya akan sama dengan kakek itu dan Rere yang mati mengenaskan ditangan perampok sadis itu.

Sambil bersembunyi, Gw memikirkan cara untuk menolong temen-temen Gw yang masih hidup, saat Gw sedang mencari jalan keluar tentang masalah yang Gw hadapi ini, sekali lagi Gw mendengar suara teriakan dari Rere, Gw tak tega melihatnya tapi Gw beranikan diri untuk mencoba mengintip, Gw melihat Rere sedang dipukuli menggunakan gagang golok yang mereka pegang berkali-kali hingga darah segar mengalir diwajah Rere, setelah mereka puas memukuli Rere, mereka langsung menarik tangan kanan Rere kesebuah papan dan salah satu dari perampok itu langsung mengayunkan goloknya menebas memotong tangan Rere, suara jeritan dan tangisan dari Rere sangat menyayat hati Gw, apalagi Gw adalah salah satu laki-laki yang mengidam-idamkan wanita seperti Rere agar kelak menjadi istri Gw.

BERSAMBUNG


0 Response to "Tragedi Malam Berdarah Part 2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel