Tragedi Malam Berdarah

Tragedi Malam Berdarah-Perkenalkan nama Gw Anton, Gw seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi yang di jawa timur, cerita ini berawal ketika Gw dan ketiga temen Gw ( Rudi, Rara, dan Rena) akan mengadakan KKN di salah satu desa terpencil yang ada di jawa tengah, KKN kali ini bertujuan untuk meneliti dan menerapkan hasil karya kami didesa terseut dalam bidang pertanian.

Tepat pukul 6 pagi pada hari kamis, kami berempat berangkat menuju desa tersebut,kami sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar tidak kemalaman saat sampai di desa yang akan kami tuju, kami sama sekali belum pernah datang ke desa tersebut, kami hanya berbekal alamat serta GPS sebagai petunjuk jalan.

Tragedi Malam Berdarah

Kota demi kota, desa demi desa telah kami lalui, tapi kami belum sampai juga kedesa tujuan, hingga saat kami melintasi rute sebuah hutan yang sangat luas dan lama, kami sempat berfikir untuk kembali saja ke kota kami. Kira-kira saat kami berada ditengah hutan yang sangat luas ini, waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, kami berencana untuk beristirahat sejenak melepas lelah tapi kami sadar kami ditengah hutan, takkan mungkin ada rumah penduduk atau penginapan yang bakalan akan kami temui.

Saat kami sedang fokus mengendarai sepeda motor kami, kami melihat sesosok kakek-kakek yang sedang berjalan dipinggir jalan didalam hutan ini, kami sempat berfikir yang tidak-tidak karena mana mungkin ada orang yang berjalan dimalam hari sendirian di hutan yang sangat sunyi ini, tapi saat kami dekati kakek-kakek itu ternyata kakek-kakek itu adalah manusia, bukan mahkluk halus.

Kakek tersebut menceritakan tentang kehidupannya yang sengaja tinggal didalam hutan bersama istrinya saja karena ingin hidup tentram, tapi istrinya telah meninggal karena sakit. Kami bersyukur sekali karena kakek-kakek tersebut bersedia menyediakan rumahnya untuk kami beristirahat, tapi inilah awal mula kejadian petaka yang akan kami alami.

Saat kami memasuki rumah kakek-kakek tua itu rumahnya sangat bersih dan rapi sekali sekali, untuk kebutuhan makan sehari-hari, kakek tua itu mendapat kiriman stok makanan setiap satu minggu oleh anak-anaknya yang tinggalnya sangat jauh dari rumah kakek itu. Kami berempat diberi satu kamar yang cukup luas, sangat nyaman dan cocok sekali untuk istirahat semalam, tapi kakek tua itu memberi satu peringatan kepada kami agar tidak memasuki ruangan kosong yang letakknya bersebelahan dengan kamar mandi. Peringatan dari kakek itu malah membuat kami penasaran, ada apa didalam ruangan kosong itu?.

Kami ber-empat berencana memasuki ruangan kosong itu saat kakek tua itu telah tidur. Tepat pukul 12 malam, kami mengendap-endap menuju ruangan kosong itu, kami coba congkel pintu ruangan dengan sebuah linggis yang kami dapatkan diruangan dapur.

Meski agak susah dibuka karena pintu ruangan itu terbuat dari kayu yang sangat kuat, tapi dengan segala usaha akhirnya kami dapat membuka pintu ruangan kosong itu. Setelah kami masuk keruangan itu, kami sengaja tidak menyalakan lampu ruangan kosong itu agar tidak ketahuan oleh kakek tua itu, kami hanya mengandalkan senter kecil sebagai alat penerengan.

Setelah menyoroti sudut-sudut ruangan itu, kami sangat terkejut sekali, ruangan itu penuh dengan benda berharga yang nilainya mungkin sangat mahal sekali, ada emas, barang-barang kono dan berbagai perhiasan lainnya yang tersimpan rapi dalam lemari-lemari yang ada diruangan itu.

Saat kami sedang terkagum-kagum dengan isi didalam ruangan itu, tiba-tiba kami mendengar suara teriakan kakek-kakek itu, suara teriakan itu seperti suara rintihan kesakitan. Disamping itu, terdengar pula suara beberapa orang dengan nada membentak-bentak, kami tau tahu apa yang sedang terjadi.

Rara : Ton...Rud, coba kalian liat ada apa dikamar kakek!!!! sepertinya ada yang tidak beres!!!!
Gw   : Ok, Gw sama Rudi kesana... tapi kalian tetap didalam sini yah!!!

Gw dan Rudi langsung berjalan mengendap-endap menuju kamar kakek tua itu, saat kami melewati ruang tamu, kami sangat terkejut sekali karena ruangan yang tadinya rapi menjadi berantakan sekali, meski lampu diruang tamu sudah dimatikan, tapi Gw dan Rudi bisa melihat karena Gw bawa senter.

Gw : Giillaaaaa.... kok jadi berantakan gini Rud, bukannya tadi waktu kita datang sangat rapi sekali!!!!
Rudi : Sssstttttttttt jangan berisik Ton, kayaknya ada yang janggal nih (sambil memaksa Gw menutup mulut).

Saat kami sedang terheran-heran oleh keadaan ruang tamu yang sangat berantakan, tiba-tiba kami mendengar sekali lagi suara teriakan minta tolong dari kakek-kakek itu, suara teriakan minta tolong itu dibarengi dengan suara rintihan kesakitan. Gw dan Rudi bergegas menuju kamar kakek yang letaknya agak jauh dari tempat kami berada.

Saat kami mendekati kamar kakek itu, kami melihat sesosok laki-laki berdiri didepan kamar kakek-kakek itu sambil memegang golok dikedua tangannya, sontak saja kami langsung terkejut.

Gw : Rud, ini mah perampokan!!!!!!
Rudi : Dieeeemmmm Goooblokkkkk...... jangan berisik, loe mau kita mati yahhh!!!! liat noh.... mereka pegang golok!!!! (Sambil menutup mulut Gw dengan tangannya).

Kami bersembunyi dibalik buffet agar laki-laki itu tidak melihat kami, meski kami bersembunyi dibalik buffet tapi kami dapat melihat kearah kamar kakek tua itu. Kami terus memperhatikan dan mengawasi apa yang sedang mereka lakukan.

Beberapa menit kemudian, kami melihat dua orang keluar dari dalam kamar kakek tua itu sambil menyeret kakek tua itu, kami sangat terkejut sekali melihat kondisi kakek tua itu, tangan kanannya telah terpotong dan sekujur badannya bersimbah darah.

Gw : Astaghfirrlah...... astaghfirrlah..... Rud, kita pergi saja dari sini....... (sambil berbicara lirih).
Rudi : Diemmmmmm,,,, jangan sampai kita ketahuan (sambil berbisik lirih).

Kakek tua itu kemudian diletakkan didepan kamarnya, dan kedua orang yang menyeret kakek tua itu berbicara meminta ditunjukan dimana harta-harta yang disimpan sambil membentak-bentak, tapi tak sepatah katapun jawaban dari mulut kakek tua itu, tiba-tiba saja salah satu dari ketiga orang itu langsung membacok kepala kakek tua itu "Mampuussss loe mmammpusssss, loe lebih sayang harta daripada nyawa HAH'', kata orang yang membacok kepala kakek tua itu dengan nada keras.

Darah segar mengalir dari kepala kakek tua itu, tapi sepertinya kakek tua itu belum meninggal karena kami melihat kakek tua itu masih sempat merangkak menjauhi ketiga orang itu, tapi sekilas saja golok menebas kaki kakek itu. Suara jeritan dan teriakan minta tolong dari kakek itu terdengar oleh kami meski lirih. Kemudian salah seorang dari mereka mendekati kakek tua itu, kemudian melayangkan goloknya menebas leher kakek tua itu hingga putus.

Gw : Astaghfirullah Al Adzim (dengan suara keras).
Perampok : Heyyyy siapa itu!!!!!! (sambil berteriak).

Mendengar teriakan dari Gw, kontan saja dua orang berlari menuju kearah kami, kami pun bergegas lari meninggalkan tempat persembunyian kami.


0 Response to "Tragedi Malam Berdarah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel