Cerita Horor Menjadi Manusia

Hari ke-1

Aku memanggilnya George, karena dia penuh rasa ingin tahu*.

Dia adalah yang pertama dari jenisnya; sebuah eksperimen ilmiah sekaligus sosial. Dia bisa berjalan, bicara, dan belajar. Aku sudah berkonsultasi dengan semua ahli; mulai dari ahli neurologi sampai pengamat perilaku, hingga insinyur robotik dan elektrik. Walaupun George adalah android yang tingginya hanya empat kaki, dia sudah kuanggap anakku sendiri. George punya kepala besar dan bulat, dengan tubuh mirip semangka. Sepasang kaki pendek menunjang tubuh besarnya, dan dia punya lengan-lengan pendek dengan jari-jemari gemuk. Dia memang gempal, tapi sangat lincah.

George diprogram untuk meniru manusia, tapi tak mampu melakukan yang lainnya. Aku memang ingin mulai dari nol; aku tak ingin ada aturan atau pengetahuan dasar yang ditanamkan padanya. Ketika aku menyalakan George untuk pertama kalinya, kupikir aku gagal karena dia butuh dua menit hanya untuk mengucapkan sepatah kata. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan, mata LED birunya menoleh kesana-kemari. 

Kata-kata pertamanya adalah: "siapa aku?"

"Kau George," kataku.

"George," ulangnya.

Hari-hari berikutnya...bagaimana harus mendeskripsikannya? Sangat menakjubkan. George berjalan kesana-kemari, mengingat nama-nama semua rekan kerjaku, semua warna dan berbagai perlengkapan di laboratorium. Ketika dia melihat sesuatu yang baru, dia akan menunjuk, dan kami akan memberitahunya kata-kata baru untuk diingat. "Wastafel." "Oscilloscope." "Besi." Daftar kosakata George terus berkembang. Kami mengajarinya hitungan sederhana sampai 10. Aku mengajarinya matematika, dan otak digitalnya dengan cepat berkembang. Tapi, tujuan utamaku sebenarnya adalah mengajari George beragam konsep terkait kemanusiaan, dan hal-hal macam itu tak bisa diajarkan di dalam laboratorium yang sumpek.

Kami merencanakan debut pertama George di Konferensi Internasional Robotik dan Intelegensi Buatan (AI) di San Diego, dan aku agak cemas kalau berita tentang teknologi AI terbaru kami bocor sebelum waktunya. Kebetulan aku sudah hendak cuti, jadi kupikir, aku akan membawa George berkendara bersama istriku ke rumah peristirahatan milik mertuaku di tepi Danau Carlyle. Kupikir, George akan aman dari mata-mata usil di sana.

Istriku, Chelsea, adalah wanita memesona dan paling luar biasa yang pernah kutemui dalam hidupku. Dia pasti akan menjadi contoh baik untuk diikuti George. Chelsea sedang hamil tujuh bulan saat itu, dan dia sangat bersemangat menanti kelahiran bayinya, jadi kupikir dia pasti akan senang bisa merawat "anak robot" ini sambil menunggu hari H-nya. Dan di tepi Danau Carlyle, aku juga akan mengajari George tentang alam.

Hari ke-3
Menjadi Manusia

Perjalanan dari New York ke Illiniois sangat panjang, tapi damai. George duduk di kursi belakang, menunjuk macam-macam ke luar jendela. Akan tetapi, benda-benda di luar berlalu terlalu cepat sebelum aku bisa memberitahu namanya. Istriku ternyata tidak begitu senang dengan keputusanku. Mungkin karena George nampak sangat aneh; familiar sekaligus berbeda dengan cara yang janggal. Salah satu isu yang kerap diusung kalau sudah menyangkut teknologi robot yang mirip manusia.

"Dia lumayan lucu, 'kan?" Tanyaku.

"Matanya menakutkan. Kenapa dia terus memandangiku?" Tanya istriku.

"George cuma penasaran. Iya 'kan, George?"

"Oh, jelas!" Seru George, walau penekanan kata-katanya agak janggal. "Oh, jelas!" adalah seruan yang sering kugunakan di laboratorium, dan George rupanya mengingatnya serta menjadikannya celetukan khasnya.

Kami tiba di rumah peristirahatan cantik itu pada hari Minggu siang, dan pemandangannya luar biasa. Pepohonannya rimbun, dan lapangan rumput hijau segar ada di bawah kaki kami. Air Danau Carlyle bergejolak malas di bawah pemandangan perbukitan. Burung-burung bersiul di kejauhan saat kami menurunkan barang-barang dari mobil, walaupun aku yang melakukan sebagian besar tugas itu karena Chelsea tak sanggup melakukan aktifitas yang berat. George berkeliaran di halaman, sensor optiknya penuh dengan rangsangan visual pemandangan alam. Walau kerepotan mengangkut barang-barang, aku sebisa mungkin menjawab semua pertanyaannya. Ini Illinois, ujarku padanya. Pohon. Rumput. Burung. Jalan tanah. Rumah. Rasa ingin tahunya membuatku senang, tapi aku juga menyadari kalau Chelsea semakin kesal padanya.

Aku ingin sekali bilang kalau kami mengalami malam romantis di rumah peristirahatan terpencil itu, tapi tidak. Kami mungkin baru berada di rumah itu selama empat jam, ketika kantorku menelepon. Ada situasi gawat dan aku harus datang. Chelsea hanya mendesah; dia sudah terlalu sering mengalami hal ini. "Tak ada gunanya berdebat denganmu, James," ujarnya sambil membasahi serbet dan mengusap keningnya. Dramatis sekali, pikirku. "Pekerjaanmu memang yang paling penting untuk hidupmu, bukan aku. Jadi, pergi saja."

Aku tak akan menggambarkan secara rinci pertengkaran yang menyusul sesudahnya. Pokoknya, ada banyak cercaan dan sebutan buruk dan tangisan. Ketika semuanya sudah selesai, aku bilang padanya bahwa aku akan kembali hari Selasa. Aku memohon pada istriku untuk mengerti. "Hanya beberapa hari, lalu aku akan langsung naik pesawat dan pulang ke sini. Aku janji."

"Bagaimana dengannya?" Tanya Chelsea sambil menunjuk George.

"Anggap saja untuk latihanmu. Sampai si kecil ini datang," ujarku sambil tersenyum dan mengelus perutnya.

"Benda itu bukan anakku," tandas Chelsea. Dia membuka pintu lemari dan mengeluarkan roti tawar serta selai kacang untuk membuat roti isi, lalu membantingnya menutup. "Aku akan pastikan dia tidak rusak, tapi itu saja."

Hari ke-5

Aku sedang berada di Terminal 2 bandara San Fransisco pada hari Selasa, menunggu pesawatku. Aku menelepon Chelsea untuk memberitahunya kalau aku akan segera terbang, dan bertanya bagaimana keadaan di sana. Dia bilang dia sudah bosan sendirian, dan minta tolong padaku untuk membeli beberapa barang nanti. Dia ingin makan pizza.

"Bagaimana kabar George?" Tanyaku.

"Aku mencoba mengajaknya memasak bersamaku, tapi dia terus bertanya apa itu makanan dan mengapa aku harus makan, dan memintaku menjabarkan rasa makanan. Coba, bagaimana kau menjabarkan rasa makanan? Ketika dia tahu dia tak bisa makan, dia tak lagi tertarik," keluh Chelsea. "Jadi, aku taruh saja dia di depan TV, dan dia tak beranjak sejak itu."

"TV! Bagus, Chelsea!" Ujarku. "Dia akan belajar tentang interaksi manusia. Dia bisa menyelami kedalaman emosi dari beragam jenis interaksi. Dia sedang nonton apa sekarang?"

"Aku tidak tahu. Baywatch, sepertinya."

"Wah, wah, sepertinya dia juga akan belajar tentang seksualitas manusia," aku tersenyum dan berbisik di telepon, "mungkin kau dan aku bisa menyegarkan memori kita tentang itu saat aku kembali nanti."

Dia menganggapku tak lucu dan menutup teleponnya. Segera setelahnya, aku naik pesawat dan menghabiskan waktu sepanjang perjalanan mengetuk-ngetuk sandaran lengan dengan gelisah. Aku mendarat di St. Louis, menyewa mobil, dan berkendara ke Illinois.

Ketika aku akhirnya sampai, aku melihat George berdiri di tepi danau, tubuhnya yang dilapisi polimer putih merunduk di depan ember. Aku bergegas menghampirinya, khawatir dia akan jatuh ke danau dan rusak. Aku mencium bau amis yang kuat ketika aku mendekat. Rupanya, George telah meraup seember air penuh berisi ikan yang berenang-renang di dalamnya. Rumput di sekitar George penuh dengan ikan-ikan mati dan serpihan-serpihan isi perut mereka yang hancur.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku, lebih ke penasaran daripada ngeri.

"Orang-orang tenggelam," ujar George.

"Mereka bukan orang, George. Mereka ikan. Mereka tidak tenggelam, mereka memang hidup di air."

"Ikan," ulang George. Dia menatap ke embernya, kepalanya yang bundar berjuang memproses konsep makhluk yang hidup di dalam air. "Ajari aku Pertolongan Pertama."

Aku menatap bangkai-bangkai ikan di rerumputan. Perut mereka semua nampak ditekan ke dalam, koyak oleh jari-jemari George yang keras. Apakah dia meniru adegan di TV? Apakah dia mencoba menyelamatkan mereka dari 'tenggelam?' Apakah ini upayanya meniru adegan Pertolongan Pertama? Kulihat ujung-ujung jemari putihnya ternoda warna merah.

Hari ke-6

Setelah insiden ikan tersebut, aku dan Chelsea berpendapat bahwa George harus diberi tontonan acara edukasi yang lebih bermanfaat. George nampaknya senang duduk berjam-jam di depan TV, menyerap semua jenis informasi dari acara dokumenter yang dibawakan narator membosankan. 

Aku baru sadar kalau aku lupa membeli barang belanjaan titipan Chelsea karena terburu-buru. Berhubung pergi bolak-balik ke toko terdekat membutuhkan sekitar sembilan puluh menit waktu perjalanan, aku bergegas mencium kening istriku sebelum menyetir mobilku pergi. Chelsea mengamati kepergianku sambil minum teh di atas kursi goyang di beranda.

Sialnya, ban depan mobilku kempes saat aku baru setengah perjalanan ke toko. Aku juga tidak mendapat sinyal ponsel, jadi aku terpaksa berjalan kaki. Aku tahu Chelsea akan marah, tapi mau bagaimana lagi? Perjalanan ke toko yang harusnya sebentar menjadi berjam-jam lamanya. Ketika aku akhirnya tiba di rumah, Chelsea sudah selesai makan malam, dan makanan jatahku sudah dingin. Aku merasa pertengkaran lain akan meletus, jadi untuk meredakan situasi, aku mengajak Chelsea jalan-jalan romantis berdua di hutan. Kami meninggalkan George di depan TV, dengan burung-burung hutan Amazon dan monyet-monyet terpantul di matanya.

Malam itu tenang dan sejuk, jadi setelah jalan-jalan, kami menghabiskan waktu di beranda, bersantai di depan perapian. Chelsea kemudian pergi tidur, tapi aku masih duduk di luar untuk mengamati bintang. Lama-kelamaan, rasa kantuk mengalahkanku, dan aku tertidur selama satu-dua jam sebelum akhirnya terbangun karena kedinginan dan tersaruk-saruk memasuki rumah.

Hal yang paling menakutkan dari George adalah fakta bahwa dia tidak tidur. Saat itu sudah lewat tengah malam saat aku masuk, namun George masih duduk dan matanya menyala di depan dokumenter alam liar yang ditontonnya. Di layar nampak tiga ekor singa bersantai di atas rerumputan, mulut mereka ternoda oleh darah. Di belakang mereka, terdapat bangkai zebra yang dikerumuni lalat, digerogoti sampai ke tulang.

George rupanya mendengarku masuk melintasi ruang tengah. Ketika aku berdiri di belakang sofanya, George memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat hingga menatapku.

"Ajari aku tentang kematian," katanya.

Hari ke-7

Setelah sarapan, aku baru menyadari bahwa George tidak duduk di depan TV seperti biasanya. Aku menghabiskan kopiku dan mengenakan sepatu botku, lalu keluar untuk mencaritahu kemana dia berkeliaran. Aku tak akan bohong kalau kubilang aku khawatir; ini adalah robot yang bernilai jutaan Dolar, dan aku sudah bersikap sedikit ceroboh terhadapnya.

Aku melihat George duduk di bawah pohon tak jauh dari teras belakang. Ketika aku mendekat, bau daging busuk menyerbu hidungku. George nampaknya tak melihatku; pandangannya terarah ke bangkai rakun di depannya. Embun berkilauan di bulunya yang tidak rata, pertanda makhluk itu sudah ada di sana semalaman.

"Kaukah yang melakukan ini, George?"

"Apa tujuan mati?"

"Yah, itu bukan sesuatu yang kita inginkan, tapi itu terjadi."

"Apakah aku juga akan mati?"

"Tidak, George, kau tidak akan mati. Sebenarnya, kau sendiri tidak bisa dibilang hidup."

"Baiklah," ujar George datar, mengulurkan tangan dan menekan rusuk bangkai rakun itu. "Apa tujuan membunuh?"

"Kita tidak membunuh, George," aku berkata cepat.

"Hewan membunuh," tukas George. "Manusia membunuh dalam perang. Kenapa mereka membunuh?"

"Yah, perang itu rumit, George. Ketika manusia sangat menginginkan sesuatu, mereka kadang membunuh untuk itu."

"Jelas," ujar George.

Aku membawa George ke dalam rumah, berhati-hati untuk tidak menyebut-nyebut soal rakun itu di depan Chelsea. Dia sudah tidak suka kepada George, dan aku tidak mau memperburuk keadaan. Kami mematikan TV dan membiarkannya mengikuti kami kesana-kemari seharian itu.

Malam itu, Chelsea dan aku memilih nama untuk calon bayi kami: Matthew.

Hari ke-8

Aku menyesali keputusanku segera setelah aku melakukannya. Aku memberitahu Chelsea soal insiden ikan dan rakun tersebut padanya saat sarapan. Dia langsung marah mendengarnya. Dia bilang, George adalah mesin yang dingin tanpa emosi, dan menyuruhku mematikannya sebelum George mendapat ide-ide aneh lainnya soal kematian. Aku bilang pada Chelsea bahwa George tidak berbahaya. Akhirnya istriku memilih menghabiskan waktunya seharian di kamar.

Petang hari itu, ibu Chelsea menelepon. Dia tinggal di Hillsboro yang berjarak sejam berkendara, dan sekarang dia membutuhkan pertolongan. Ayah Chelsea jatuh di kamar mandi, namun menolak dipanggilkan ambulans atau minta tolong pada tetangga. Dia adalah pria yang penuh harga diri, namun juga berjuang menerima kenyataan hidup di masa tua. Ibu Chelsea terlalu tua dan lemah untuk membantu suaminya, tapi dia berhasil meyakinkan ayah Chelsea untuk mengijinkan kami membantu. Aku bilang kami akan datang dan membantunya, tapi Chelsea terlalu lemah untuk berkendara jauh-jauh. Aku tentu tidak mau membuat mereka kaget dengan membawa-bawa robot. Chelsea sempat memprotes keputusanku meninggalkannya bersama George, tapi aku akhirnya mendapat ide.

Aku akan mengajari George tentang moralitas!

Aku kemudian mendudukkan George di depan TV dan mengganti saluran ke acara khotbah agama dan paduan suara rohani. Dia pasti akan bisa belajar tentang perbedaan antara yang salah dan benar di acara-acara ini, dan Chelsea bisa beristirahat. Sebelum aku pergi, lagi-lagi Chelsea memilih mengurung diri di kamar. Kupikir konyol sekali dirinya karena takut pada benda seperti George.

Aku berjongkok di depan George dan berkata, "aku akan pergi selama beberapa jam. Kau duduk di sini dan tonton saluran ini, oke? Ini akan mengajarkanmu moralitas manusia. Kau ingin jadi manusia, 'kan?"

"Oh, jelas," ujar George.

Hari ke-9

Bagaimana mungkin aku begitu buta? Bagian yang berikut ini sangat sulit untuk ditulis, jadi kurasa aku akan mulai dengan menjelaskan apa yang telah dipahami George selama aku pergi.

Berjam-jam acara khotbah telah memenuhi otak George dengan ide-ide tentang jiwa, surga, neraka dan iblis. Pendeta berambut putih di layar kaca berkata bahwa hanya jiwa-jiwa yang baik yang bisa pergi ke surga. Yang lainnya pergi ke neraka, tempat yang sangat mengerikan. Walaupun George tak sepenuhnya mengerti apa itu surga dan neraka, dia jelas tak akan mau pergi ke tempat yang mengerikan. George ternyata mengingat hari insiden rakun tersebut, ketika aku menjelaskan padanya bahwa dirinya bukan makhluk hidup. Bahwa dia tak akan mati. Dan khotbah itu rupanya menekankan bahwa seseorang harus mati dulu sebelum pergi ke "tempat yang baik."

Jika George punya kesempatan untuk "hidup," yang berarti dia bisa mati dan punya kemungkinan pergi ke "tempat yang baik," dia membutuhkan jiwa.

Sang pendeta tersenyum, dan memberitahu George bahwa jiwa tercipta bersama dengan kelahiran seseorang. Jadi, George beranggapan bahwa jika dia menginginkan jiwa, dia harus dilahirkan.

Aku baru pulang sekitar pukul 4 pagi. Perjalanannya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Ketika tiba, aku melihat rumah sangat gelap dan senyap; TV sudah dimatikan, dan George tak lagi duduk di sofa. Ketika berjalan melewati dapur, aku melihat pisau daging hilang dari tempatnya.

Pintu kamar tidur terbuka lebar. Aku mendorongnya dengan tangan gemetar, dan ketakutan terbesarku terpampang jelas di depanku.

Chelsea terbaring di atas ranjang, kedua lengannya terentang di sisinya, kakinya terlipat di bawah tubuhnya, matanya hampa dan mati. Selimut putihnya nampak merah oleh darah. George meringkuk di sampingnya, tubuh kerasnya yang dingin menempel ke tubuh Chelsea. Pisau daging berlumuran darah tergeletak di dekatnya.

Dia telah mengiris tubuh Chelsea dari dasar tulang dadanya sampai ke panggul, lalu menarik dagingnya hingga tubuhnya terbuka. Tangannya yang putih memerah, karena dia berusaha memaksa dirinya menyusup masuk ke tubuh Chelsea. Dia membuat ruang untuk dirinya sendiri di samping Matthew.

"A...apa...kau yang melakukan ini, George?" Aku terduduk di ambang pintu, menutup mulut saat menatap pemandangan mengerikan di depanku. Aku merasakan muntahan di tenggorokanku.

"Oh, jelas," sahut George.

"Ke...kenapa? Oh, Tuhan...."

George mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata birunya yang datar dan tak berkedip itu. "Aku sangat menginginkan sesuatu," katanya. "Aku membunuh untuk mendapatkannya."

Aku langsung muntah. Tubuhku gemetar. Aku ingin sekali berlari ke arah George dan memukulinya habis-habisan. Aku ingin meremukkan kepala putihnya. Aku ingin mengoyak sirkuit dan kabel-kabelnya. Tapi aku bahkan tidak sanggup berdiri.

"Kau...melakukan ini...untuk menjadi manusia?"

"Oh, jelas."

Kami memanggilnya George, karena dia penuh rasa ingin tahu.


Tamat



Judul asli: To be Human
Penulis: Andrew Harmon
Merujuk pada tokoh kartun dan buku anak-anak bernama Curious George.

Share This :

Related Post



sentiment_satisfied Emoticon