Tragedi Malam Berdarah Part 3

Tragedi Malam Berdarah Part 3-Selamat malam sobat cerita horor indonesia, admin akan meneruskan lanjutkan dari cerita tragedi malam berdarah, buat yang belum membaca part pertama dan kedua, silahkan klik link berikut ini.

Tragedi Malam Berdarah Part 3

Gw berfikir, kalau Gw hadapi mereka secara langsung itu sama saja mati konyol, tapi jika Gw tidak bertindak secepatnya bisa-bisa Rere dan Rudi bisa dibunuh seperti Rena dan kakek tua itu, akhirnya Gw menemukan ide, Gw baru ingat kalau Rudi bawa senapan angin dan ketapel dalam tas ranselnya, dan Gw langsung saja berlari menuju kamar Rudi untuk mengambilnya.

Setelah Gw temukan senapan angin dan ketapel milik Rudi, Gw langsung mendekati mereka sambil tetap bersembunyi. Tanpa pikir panjang lagi, setelah Gw dapatkan sasaran tembak, Gw langsung menembakkan senapan angin dari jarak yang cukup dekat ke bagian kepala dari salah satu dari perampok itu, peluru yang Gw tembakkan memang tepat mengenai kepala perampok itu tapi sepertinya tidak sampai membunuhnya karena orang tersebut masih sempat berdiri meski terjatuh lagi.

Melihat temannya tertembak, kedua perampok itu berteriak-teriak menantang Gw agar keluar dari persembunyian sambil mengancam akan membunuh Rudi dan Rena. Disaat mereka sedang sibuk menolong temannya yang tertembak dan sibuk mencari keberadaan Gw, Gw langsung mengambil ketapel untuk melukai kaki dari salah satu perampok itu. Batu yang Gw lontarkan menggunakan ketapel tepat mengenai kaki dari salah satu perampok itu, sepertinya mereka sudah mulai ketakutan, dan disaat itulah Gw langsung keluar berlari kearah mereka sambil membawa parang untuk menyabet tubuh mereka, Gw berlari ke arah salah satu perampok yang belum terluka, Gw lari secepat-cepatnya agar mereka tidak bisa menghindari sabetan parang Gw.

Sambil berlari, secepat kilat Gw sabetkan parang Gw ke badan dari salah satu perampok itu, Gw tak mengetahui bagian mana yang kena sabetan dari parang Gw, tapi yang jelas sabetan parang Gw mengenai tubuh salah satu perampok itu karena Gw merasakan darah segar mengenai muka Gw.

"bajingan kalian, Kalau berani... sini kita duel satu lawan satu" ancam Gw ke mereka.
"Loe mau mati konyol juga seperti temen loe yah hahahahahahaha", jawab salah satu dari perampok itu.

Tanpa pikir panjang lagi, Gw langsung berlari sambil mengayunkan parang Gw perampok yang hanya terluka oleh ketapel Gw, Gw beruntung karena 2 dari perampok itu sudah tak berdaya karena sudah terluka dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Perkelahian Kami begitu sengit, berkali-kali Gw ayunkan parang Gw tapi bisa ditangkis menggunakan golok yang dipengangnya. Disaat Gw sedang berkelahi dengan perampok itu, tiba-tiba saja Gw merasakan seperti ada sabetan benda tajam di punggung Gw, Gw merasakan punggung Gw sangat sakit sekali. Rupanya perampok yang terkena sabetan parang Gw tadi telah menyabetkan goloknya ke punggung Gw dari belakang.

"Mampuusssss loe" teriak perampok yang menyabetkan goloknya ke punggung Gw.

Gw sudah tak berdaya, disaat sedang menahan sakit, salah satu dari perampok itu meyabetkan lagi goloknya ke kaki Gw, darah mengalir deras dari kaki Gw, rasa sakit sudah tak mampu Gw tahan, akhirnya Gw hanya bisa tergeletak lemas ditanah, Gw sudah Pasrah jika Gw akan dibunuh pada malam ini.

"Ini sebagai balasan karena loe berani menembak temen kami" teriak dari salah satu perampok itu.

Gw tak tahu apa yang mereka lakukan ke Gw, tapi kedua perampok itu mendekati Rere lagi yang juga sudah terkulai lemas ditanah karena tangannya sudah terpotong. Gw saksikan dengan kedua mata Gw saat salah satu perampok itu kembali mengayunkan goloknya ke tubuh Rere, dan Gw sudah tidak mendengar suara jeritan atau teriakan dari Rere lagi, rupanya Rere telah meninggal.

Meski Rere sudah tak bergerak sama sekali tetapi perampok itu masih tega membacok Rere, bahkan Gw melihat perampok itu membacok bagian kepala Rere berkali-kali hingga kepala Rere hancur dan rusak karena sabetan golok. Gw hanya bisa menangis menyaksikan kekejaman yang dilakukan perampok itu.

Belum juga hilang rasa sedih Gw karena kehilangan Rere dan Rena, salah satu perampok itu mendekati Rudi yang diikat dipohon dengan mulut ditutup lakban. Tanpa ada rasa belas kasihan, Gw menyaksikan sendiri saat perampok itu menggorok leher Rudi secara perlahan-lahan, Gw tidak bisa membayangkan betapa sakitnya yang Rudi rasakan. 

Perampok itu menggorok leher Rudi hingga kepala Rudi terpisah dari badan Rudi, Gw hanya bisa menangis, menyesal dan tak bisa membayangkan kalau nasib Gw juga akan sama seperti temen-temen Gw karena setelah membunuh Rudi, perampok itu langsung mendekati Gw sambil tetap memagang golok yang sudah berlumuran darah.

Setelah mereka berdiri tepat disamping Gw yang tergeletak ditanah, salah satu perampok itu langsung mengayunkan goloknya kearah Gw,,,,,,, "Aaaaaccchhhkkkkkkkkkk" teriak Gw sekeras-kerasnya, tapi tiba-tiba saja ada teriakan dari Rere dan Rena.

"Ton,, bangun ton, banguuuuuuuuuunnnnnnnnnnnnn", loe mimpi serem yah.. kok loe teriak-teriak kayak orang kesurupan", tanya Rere saat Gw sudah terjaga dari tidur Gw.
"Astaghfirrlah....astaghfirrlah"....... Gw tak henti-hentinya terus ber-istighfarr karena rupanya apa yang Gw alami hanya sebuah mimpi.
"Ton, Loe mimpi apa Ton, Kok sampai berkeringat gitu????tanya Rena dengan rasa penasaran.
"Iya sob, Gw mimpi serem banget!!!!!Rudi mana???" tanya Gw ke Rere dan Rena.
'' Rudi lagi didepan sedang mengecek kelengkapan buat perjalanan kita, ini kan sudah pagi, sudah saatnya kita berangkat untuk KKN" jawab Rena penuh semangat.
"Sebaiknya kita batalkan saja rencana kita sob, Gw semalem mimpi kita semua dibunuh dihutan" kata Gw dengan penuh ketakutan.

Gw ceritakan semua mimpi yang Gw alami, seakan-akan mimpi itu nyata. Mendengar cerita tentang mimpi Gw yang sangat mengerikan, akhirnya kita semua sepakat untuk membatalkan rencara KKN ke desa dijawa timur.

TAMAT


0 Response to "Tragedi Malam Berdarah Part 3"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel