Cerita Horor : Mayat part 2

dan Deby segera menutup ruang pendingin yang berisikan mayat aneh itu.
. ..
Palang Hitam yang menunduk kembali bangkit dan tak sanggup berkata kata.
ia terlihat tidak nyaman,
Deby pun bersikap sama.
hanya bisa menarik nafas dalam dalam
Suara dering telpon seketika berbunyi dari saku Palang Hitam.
dengan cepat meraih handpone dari saku dan mengangkat panggilan selulernya.
"Hallo! ada Badan (mayat) lagikah pak Edy?"
"Betul! dimana posisi? gw di perumahan mawar nih!"
"Habis ngantar! masih di kamar mayat ni,
Gw langsung menuju lokasi deh"
"Ok Gw tunggu!!"
belum sempat palang hitam itu bicara.
telpon sudah di matikan.
palang hitam itu segera berpamitan dengan Deby.
"Saya mau angkut mayat lagi ya!
jgn panggil saya Mas panggil saya Chicko."
"Ok Chicko Silahkan! tetap semangat ok".

Mayat

Palang Hitam bernama Chicko Itu bertanya kembali.
" Siapa nama kamu?"
"Lihat kalung nametag saya!"
jawab Deby.
Ekspresi palang hitam yang bernama Chicko itu serius memandang kalung nametag yg melingkar di leher Deby.
"Oh! Deby. kamu kekar mandiri dan sexi!"
Deby tersenyum kecil dengan mengakat kedua alisnya.
"Chicko! rayuanmu terlalu buruk".
Saat Chicko pergi Deby kembali memeriksa mayat yang Chicko bawa dan belum selesai di periksa olehnya karena kejadian aneh tadi.
Deby ingin melepas dress si mayat.
saat membuka kancing Dress,
ibu jari Deby tersayat oleh biji kancing si mayat yang terbuat dari perak.
darah Deby menetes hingga ke bibir mayat tersebut.
deby pergi ke kotak P3k dan mengobati ibu jarinya dengan plester.
saat kembali ke hadapan mayat.
ia sangat terkejut darah menetes netes dari hidung si mayat.
Deby sangat bingung.
dengan cepat ia meraih kapas dan kedua lubang hidung mayat di sumpal.
darah terhenti karena sumpalan kapas,
dada Deby berdebar.
sambil menyenderkan tubuhnya di meja bedah yang lain
Deby mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
mata mayat itu bergerak ke arah Deby.
mulutnya yang semula rapat seketika menganga dan darah hitam pekat keluar dari mulutnya.
Deby belum menyadarinya.
pandangan Deby yang semula melihat lantai terkejut kembali karena ia melihat tetesan darah hitam yang terus mengalir perlahan dari mulut si mayat.
Deby mulai kebingungan.
ia berlari keluar dari kamar mayat dan segera menelpon suster Jihan karena merasa tidak nyaman atas kejadian itu.
Pukul 03:30 dini hari.
Dering ponsel suster jihan membangunkan tidurnya.
Dengan suara khas bangun tidur suster Jihan menjawab telpon yang ternyata dari Deby.
"Hallo Deb! ada apa?".
dengan gemetar Deby bicara.
"Jihan. Gu..Gu..Gue takut banget, ada mayat baru, mulutnya keluar banyak darah gk berhenti! Gw bingung han!".
Suster Jihan tarik nafas.
" Ok! Gw segera kesana!".
"Cepat!!!"
seketika Signal di ponsel Deby menghilang dan lampu di sekitar ruangan berkedip sampai 3 kali.
Deby masuk ke ruangannya dan duduk di lantai sembari mendekap lutut dengan erat.
suara orang menangis terdengar dari telinganya.
deby memandangkan wajahnya ke lantai.
suara langkah berjalan secara lamban.
Deby memejamkan matanya,
Langkah itu berasal dari mayat Yang mengeluarkan darah hitam dari mulutnya tadi.
entah mayat itu kenapa bangkit, mayat itu mengetuk pintu ruangan Deby dengan mengeluarkan suara "Buka".
Mata Deby tetap terpenjam dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
ia tidak mau membuka mata.
mayat tersebut sangat seram masih menggunakan dress cokelat selutut bercorak bunga.
urat berwarna cokelat keluar di sekujur tubuhnya sampai wajah . matanya hitam pekat.
darah menetes dari mulutnya.
dia masih mengetuk pintu ruangan Deby.
Mayat bangkit itu seperti ingin mengganggu Deby.
dengan posisi yang sama Deby tetap tidak mau membuka matanya.
ia sangat ketakutan.
suara pintu lift terbuka,
Deby masih tetap mempertahankan posisinya.
Langkah sepatu terdengar berjalan menuju ruangan.
suara sepatu itu berasal dari suster Jihan.
mayat itu seketika menghilang.
Suster jihan tiba dan segera membuka pintu ruangan Deby.
" Ada apa Deb?"
Deby memeluk Suster Jihan karena perasan takutnya.
"Mayatnya bangun."
Suster Jihan menjawab dengan ekspresi sedikit bingung.
"Bangun? jangan gila Deb! makannya jgn sering minum alkohol."
"Gw serius, gw gk minum alkohol dari tadi".
" Yaudah. bangun yuk! kita buat teh manis."
Deby mengangguk.
entah kenapa kepalanya menjadi berat.
Deby dan suster Jihan berjalan menuju lift untuk turun membuat Teh.
Mayat yang tadi bangkit itu kembali dengan posisi semula.
mereka berdua kembali ke ruangan Deby.
suster Jihan bertanya dengan Deby yang mimik wajahnya penuh kekhawatiran.
"Lu sudah mendingan kan Deb?"
Deby menganggukan kepala.
"Lu masih kuat kerja disini?
Deby tetap menganggukan kepala tanpa bicara.
" yaudah yuk periksa mayatnya."
Deby berjalan menuju kamar mayat bersama suster Jihan.
ternyata saat mereka ke dalam kamar mayat darah hitam yang menetes dari mulut mayat sudah melebar di lantai.
Suster Jihan membantu Deby membersihkan darahnya.
suster jihan berkata.
"Jangan panik Deb! hal begini sudah biasa, pembuluh darahnya sudah tidak muat menampung. jadi darah keluar dari setiap lubang yang ada di tubuh mayat"
Deby tersenyum lega.
perasaan suster jihan juga bingung, 'darah yang keluar dari mayat kok banyak sekali'.
dan mereka kembali memeriksa mayat.
memasang sarung tangan karet.
lalu Deby bicara.
"Gw tadi coba lepas kancingnya,
gagal. nih jempol gw sampe kesayat".
ia menunjukan ibu jarinya yang sudah di balut plester.
Suster jihan mencoba membuka Kancingnya
ternyata juga gagal.
melupakan masalah kancing
ia mencoba menggunting dress mayat tersebut ternyata bahannya pun tidak bisa terpotong,
Gunting itu seperti terbuat dari plastik.
entah kekuatan apa yang ada di pakaian mayat itu.
Suster Jihan mulai menyerah dengan masalah pakaian si mayat.
ia mulai meriksa mulut dan matanya hingga memeriksa vagina mayat tersebut.
ia melihat sesuatu,
seekor Larva seukuran kelingking keluar dari dalam.
ia mulai merasa aneh.
suster jihan meminta bantuan pada Deby yang sedang fokus melihat mayat itu.
"Tolong kotak peralatan Deb!".
Deby segera mengambil kotak peralatan bedah.
Suster jihan meneliti mayat itu ketika ia mulai tahu tentang kondisi mayat.
keadaan yang hening spontan menjadi gaduh.
semua mayat yang ada di dalam ruang pendingin terlempar keluar.
suasana semakin tak terkendali.
Suster Jihan dan Deby seketika menyelamatkan diri dari hal mengerikan itu.
mereka mengumpat di bawah meja bedah.
ekspresi mayat Aneh itu tiba tiba tersenyum mengerikan.
Suster Jihan dan Deby melihat sekeliling ia menyaksikan puluhan mayat itu berdiri.
mereka berdua bergetar.
seketika puluhan mayat itu
terjatuh dengan posisi semula.
dengan panik suster Jihan bersama Deby menuju keluar Kamar mayat dan naik dengan lift ke atas ruang UGD.
di ruangan berbeda para suster dan dokter yang lain kebingungan melihat ekspresi Suster Jihan dan Deby.
Deby yang sangat takut menggeletakan diri di lantai posisi duduk.
sedangkan Suster Jihan yang Shock meminta bantuan kepada para Suster dan Dokter yang lain.
"Tolong saya!. semua Mayat berjatuhan dari ruang pendingin".
Jam menunjukan pukul 4:30.
Semua staf menuju Kamar mayat menggunakan lift bersama dengan Suster Jihan dan Deby.
semua staf memakai masker penutup.
lalu puluhan mayat yang berjatuhan dari ruang pendingin di bawa keluar memakai kantong untuk di pindahkan ke RS lain atau mungkin di kebumikan.
kecuali mayat Aneh yang masih bergeletak di atas meja Bedah. ruang pendingin di kosongkan karena takut hal tadi terjadi lagi.
Suster jihan tidak mengijinkan mayat aneh itu di bawa keluar.
" Mayat itu jangan di bawa.
saya belum selesai memeriksa."
para dokter yang lain kebingungan karena pakaian mayat itu belum di tanggalkan.
semua staf keluar dari kamar mayat.
kecuali Deby dan Suster Jihan.
mereka menaruh Mayat itu ke ruang pendingin yang seluruhnya kosong.
saat hendak di taruh Lampu di kamar mayat berkedip.
tetapi mereka tidak peduli.
selesai mayat aneh itu di letakan dalam ruang pendingin,
merekapun pergi keluar menuju lift dan pekerjaan mereka di mulai kembali besok sore.

Next Again
Share This :

Related Post



sentiment_satisfied Emoticon