Dengarkan cerita horor ini dengan versi suasana yang lebih mencekam dan visual dark atmospheric khas Indonesia yang dibuat untuk membawa kamu langsung masuk ke dalam cerita di PODCAST atau YOUTUBE.
SINOPSIS RUMAH HANTU DAN SOSOK DI BALIK TIRAI DAPUR
Raka, 28 tahun, baru pindah sementara ke rumah peninggalan pamannya di pinggir kota setelah ibunya berpulang. Rumah itu sudah lama kosong dan jarang didatangi keluarga. Lingkungannya sepi, hanya ada suara jangkrik dan anjing kampung saat malam.
Awalnya tidak ada yang aneh, hanya rumah tua biasa dengan dapur lembab di bagian belakang dan tirai kusam yang selalu bergerak pelan meski tidak ada angin. Raka mulai merasa ada sesuatu yang salah ketika setiap hampir tengah malam, suara peralatan dapur terdengar samar dari belakang rumah. Kadang seperti sendok jatuh. Kadang seperti seseorang sedang mencuci piring perlahan.
Yang membuatnya semakin tidak nyaman, tirai dapur itu selalu sedikit terbuka setiap pagi, seolah semalam ada seseorang berdiri di baliknya. Hari demi hari, rumah itu terasa semakin hidup. Sampai hampir subuh suatu malam, Raka melihat sesuatu berdiri diam di dapur… menatap ke arahnya tanpa bergerak sedikit pun. Dan sejak malam itu, rumah tersebut seperti tidak ingin membiarkannya keluar lagi…
INTI CERITA RUMAH HANTU DAN SOSOK DI BALIK TIRAI DAPUR
Raka pindah ke rumah peninggalan pamannya sekitar dua minggu setelah ibunya berpulang.
Dia butuh tempat sementara. Apartemennya dijual karena biaya rumah sakit waktu itu cukup besar.
Rumah tua itu ada di ujung jalan kecil yang jarang dilewati orang malam-malam.
Kalau sudah lewat jam sebelas malam, suasananya benar-benar sunyi.
Kadang cuma ada suara televisi samar dari rumah tetangga jauh.
Sisanya… hening.
Malam pertama di sana sebenarnya normal.
Raka cuma membersihkan kamar depan lalu tidur lebih cepat karena badannya masih lelah.
Sampai sekitar jam satu malam…
Dia terbangun karena suara benda logam jatuh dari belakang rumah.
Pelan.
Nyaring.
Seperti sendok yang jatuh ke lantai keramik.
Raka membuka mata sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.
Dia diam beberapa detik.
Lalu suara itu muncul lagi.
Kali ini seperti ada yang menggeser kursi makan perlahan.
Raka langsung duduk.
Rumah itu kosong.
Tidak mungkin ada orang lain.
Dia mengambil ponsel lalu berjalan pelan menuju dapur.
Lorong rumah terasa lebih panjang saat malam.
Lampu kuning redup di dekat dapur berkedip pelan.
Dan di ujung lorong itu…
tirai dapur bergerak sedikit.
Raka berhenti.
Tidak ada angin.
Semua jendela tertutup.
Dia menunggu beberapa detik sambil menahan napas.
Tirai itu bergerak lagi.
Pelan sekali.
Seolah ada seseorang berdiri di baliknya.
Raka memberanikan diri membuka tirai dapur dengan cepat.
Kosong.
Hanya dapur lembab dengan wastafel tua dan piring berdebu.
Tapi lantainya basah.
Seperti baru ada air menetes.
Raka mulai merasa tidak nyaman sejak malam itu.
Besok paginya dia mencoba berpikir normal.
Mungkin tikus.
Mungkin kayu rumah memuai.
Atau mungkin dia terlalu lelah.
Tapi malam berikutnya…
suara itu datang lagi.
Kali ini lebih jelas.
Suara piring disentuh pelan.
Ck…
Ck…
Ck…
Seperti seseorang sedang mencuci sesuatu perlahan di wastafel.
Raka tidak langsung keluar kamar.
Dia hanya duduk di kasur sambil mendengarkan.
Dan semakin lama…
suara itu terasa semakin dekat.
Sampai akhirnya berhenti mendadak.
Sunyi total.
Beberapa detik kemudian…
terdengar suara langkah pelan di lorong rumah.
Bukan suara langkah keras.
Tapi suara kaki basah.
Pelan.
Lengket.
Mendekat ke arah kamar.
Raka mematung.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada suara apa pun.
Hanya diam.
Terlalu lama.
Raka bisa mendengar napasnya sendiri.
Tangannya mulai dingin.
Lalu…
suara langkah itu pergi lagi ke arah dapur.
Pelan.
Menjauh.
Dan tirai dapur terdengar bergerak sekali.
Besok paginya, Raka menemukan sesuatu.
Kursi makan yang semalam menghadap meja…
sekarang menghadap lorong kamar.
Seolah semalam ada yang duduk sambil melihat ke arah tempat dia tidur.
Sejak itu, tidur Raka mulai berantakan.
Dia sering terbangun hampir subuh karena suara dapur.
Kadang suara keran.
Kadang suara gelas bergeser.
Kadang cuma suara tirai yang bergerak pelan.
Tapi dia mulai sadar satu hal.
Setiap suara muncul…
lampu dapur selalu menyala.
Padahal dia yakin sudah mematikannya sebelum tidur.
Malam keempat…
Raka akhirnya melihat sesuatu.
Waktu itu listrik rumah sempat mati sebentar karena hujan deras.
Rumah jadi gelap total.
Raka berdiri di lorong sambil menyalakan flashlight ponselnya.
Dan saat cahaya itu mengarah ke dapur…
ada seseorang berdiri di balik tirai.
Diam.
Tidak bergerak.
Yang terlihat cuma sebagian wajah pucat dan rambut panjang basah.
Raka langsung mundur refleks.
Lampu rumah menyala lagi.
Sosok itu hilang.
Tapi tirainya masih bergerak pelan.
Raka tidak tidur sampai pagi.
Besoknya dia mencoba keluar rumah lebih lama.
Dia nongkrong di warung dekat jalan besar sampai malam karena mulai malas pulang.
Tapi anehnya…
setiap dia memikirkan rumah itu…
dia selalu teringat dapurnya.
Seolah rumah itu menarik pikirannya pelan-pelan.
Malam itu, sekitar hampir jam tiga pagi…
Raka terbangun lagi.
Bukan karena suara.
Tapi karena merasa ada yang melihat.
Dia membuka mata perlahan.
Kamar gelap.
Pintu kamar terbuka sedikit.
Padahal sebelumnya dia menguncinya.
Dan dari celah pintu…
terlihat tirai dapur bergerak.
Padahal posisi dapur jauh dari kamar.
Raka duduk perlahan.
Dadanya mulai sesak.
Lalu dia sadar sesuatu.
Ada bekas air di lantai lorong.
Bekas jejak kaki.
Basah.
Mengarah dari dapur… ke kamarnya.
Raka langsung menutup pintu dan mendorong lemari kecil ke depannya.
Suara dapur mulai terdengar lagi.
Pelan.
Ck…
Ck…
Ck…
Lalu berhenti.
Beberapa detik sunyi.
Kemudian…
ada suara seperti kuku menggesek tirai kain perlahan.
Sret…
Sret…
Sret…
Raka tidak bergerak sama sekali.
Dia bahkan tidak berani melihat celah bawah pintu.
Sampai hampir subuh…
semua suara hilang sendiri.
Dan untuk pertama kalinya…
Raka mendengar suara perempuan berbisik dari dapur.
Pelan sekali.
“Haus…”
Besok paginya, wastafel dapur penuh air hitam.
Dan tirainya…
dalam keadaan terbuka lebar.
Malam terakhir terjadi tiga hari kemudian.
Hujan turun deras sejak maghrib.
Listrik rumah beberapa kali berkedip.
Raka sudah memutuskan pergi pagi besok.
Tasnya bahkan sudah siap di dekat pintu.
Tapi sekitar hampir subuh…
dia mendengar suara kursi ditarik keras dari dapur.
Kali ini sangat jelas.
Raka keluar kamar sambil gemetar.
Lorong rumah gelap.
Lampu dapur menyala redup berkedip.
Dan di sana…
ada sosok perempuan berdiri membelakangi lorong.
Diam.
Rambutnya basah.
Tubuhnya terlalu kurus.
Tangannya menggenggam tirai dapur.
Raka tidak bisa bergerak.
Sosok itu perlahan menoleh sedikit.
Tidak penuh.
Hanya sebagian wajahnya terlihat.
Kulit pucat.
Mulutnya seperti tersenyum tipis.
Lalu dengan suara pelan…
dia berkata,
“Dari tadi aku nunggu kamu lihat.”
Lampu dapur langsung mati.
Rumah mendadak sunyi total.
Dan sejak malam itu…
tetangga sekitar bilang rumah tua di ujung jalan itu kembali kosong.
Tapi kadang hampir subuh…
lampu dapurnya masih menyala sendiri.
Dan tirai kusam itu…
masih bergerak pelan dari dalam.
Sekian cerita Rumah Hantu dan Sosok di Balik Tirai Dapur, anda dapat membaca cerita horor kami lainnya seperti cerita horor.
