Table of Contents
Sinopsis Cerita
Keluarga Santi selalu hidup dalam kemewahan yang tak wajar, sebuah rahasia gelap yang dikubur rapat oleh almarhum ayahnya. Namun, setelah sang ayah pergi dengan cara yang tidak wajar, teror secara perlahan mulai menggerogoti rumah peninggalannya. Kekayaan yang mereka nikmati selama ini ternyata berasal dari ritual gelap di Gunung Kawi, di mana sang ayah telah menukar nasib keturunannya demi harta di bawah naungan pohon Dewandaru. Kini, kutukan tersebut mulai menuntut bayaran, membawa halusinasi psikologis yang mencekam dan sesosok entitas gelap yang semakin mendekat untuk menagih janji, memaksa Santi menghadapi konsekuensi mengerikan yang tak bisa dihindari.
Rumah Besar yang Menyimpan Rahasia Gelap
Santi selalu mengira…
ayahnya hanyalah seorang pengusaha yang beruntung.
Bisnis keluarga mereka melesat tajam puluhan tahun lalu.
Tanpa ada satu pun kerabat yang tahu…
dari mana modal awalnya berasal.
Santi tumbuh di rumah besar yang megah.
Rumah yang selalu terasa dingin.
Dan terlalu sunyi.
Hingga malam itu tiba.
Malam ketika ayahnya ditemukan terbujur kaku di ruang kerjanya.
Wajahnya pucat pasi.
Matanya melotot…
menatap ngeri ke arah sudut ruangan yang kosong.
Dokter bilang itu serangan jantung.
Tapi Santi tahu…
ada sesuatu yang tidak wajar.
Gangguan Setelah Kematian Sang Ayah
Seminggu setelah ayahnya pergi…
gangguan mulai datang.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Suara langkah kaki basah di lorong lantai dua.
Bau kemenyan yang tiba-tiba menyengat dari kamar mendiang ayahnya.
Lalu suhu rumah yang mendadak turun drastis tanpa alasan.
Malam itu, Santi memberanikan diri masuk ke ruang kerja ayahnya.
Di dalam laci meja kayu jati yang terkunci…
ia menemukan sebuah kotak tua.
Di dalamnya terdapat buku catatan bersampul kulit kusam.
Halaman-halamannya dipenuhi aksara Jawa kuno.
Namun ada satu halaman yang dilipat.
Di sana tergambar sebuah pohon besar.
Dan di bawahnya tertulis satu nama tempat:
Gunung Kawi.
Udara di ruang kerja itu langsung terasa berat.
Lampu gantung mulai berkedip pelan.
Lalu…
dari lorong luar terdengar suara ketukan tongkat kayu.
Tuk…
Tuk…
Tuk…
Semakin lama…
semakin dekat.
Sosok Tinggi di Lorong Rumah
Santi menahan napas.
Matanya terpaku pada pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
Di sela bayangan lorong yang gelap…
ada sesuatu berdiri.
Sangat tinggi.
Mengawasinya dalam diam.
Santi memejamkan mata erat-erat.
Suara tongkat itu berhenti tepat di depan pintu.
Hanya tersisa detak jam dinding yang terdengar di tengah keheningan.
Saat ia membuka mata…
sosok itu sudah hilang.
Namun bau kemenyan yang tertinggal di udara…
semakin pekat dan menyesakkan.
Dengan tangan gemetar, Santi membuka halaman berikutnya.
Tulisan ayahnya tampak berantakan.
Seolah ditulis dalam ketakutan besar.
Di sana…
ayahnya menceritakan perjalanan rahasia ke lereng Gunung Kawi puluhan tahun lalu.
Perjanjian Gelap di Pohon Dewandaru
Saat itu bisnis ayahnya berada di ambang kehancuran.
Seorang teman lama membawanya ke sebuah pelataran keramat.
Di sana berdiri Pohon Dewandaru.
Pohon tua yang dipercaya bisa mengabulkan kekayaan lewat ritual tertentu.
Ayahnya harus bersemedi selama tiga hari tiga malam.
Menunggu satu hal.
Sebuah daun jatuh langsung mengenai tubuhnya.
Dan daun itu…
benar-benar jatuh di atas pangkuannya.
Sejak malam itu kehidupan mereka berubah total.
Uang datang tanpa henti.
Usaha berkembang sangat cepat.
Semua orang mengagumi kesuksesannya.
Namun…
tidak ada yang tahu harga sebenarnya.
Di halaman berikutnya terdapat noda merah gelap yang sudah mengering.
Dan sebuah tulisan mengerikan:
“Perjanjian ini tidak akan selesai saat aku mati.”
“Mereka akan datang menagih kepada darah dagingku.”
“Tujuh turunan tidak akan pernah dilepaskan.”
Anak Santi Mulai Melihat Sosok Itu
Santi melempar buku itu ke meja.
Tubuhnya gemetar.
Tujuh turunan.
Artinya dirinya…
dan anak perempuannya…
adalah target berikutnya.
Tiba-tiba dari kamar anaknya di lantai bawah terdengar suara tawa kecil.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Santi langsung berlari menuruni tangga.
Lorong rumah mendadak gelap.
Saat sampai di depan kamar anaknya…
ia melihat putrinya duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum ke arah sudut ruangan.
“Sayang… kamu bicara dengan siapa?”
Anaknya menoleh perlahan.
Wajahnya pucat.
Lalu menunjuk ke sudut kamar yang gelap.
“Kakek baru datang bawa mainan.”
“Tapi jalannya pakai tongkat.”
“Dan badannya tinggi sekali sampai menyentuh atap.”
Darah Santi langsung terasa dingin.
Di sudut ruangan itu…
bayangan hitam mulai bergerak.
Samar-samar terlihat kain batik kusam.
Dan tongkat kayu tua.
Teror dari Dalam Kamar Mandi
Santi segera membawa anaknya ke kamar atas.
Mengunci pintu.
Dan mendorong lemari besar untuk mengganjalnya.
Namun teror belum selesai.
Udara kamar berubah lembap.
Berbau tanah kuburan.
Tiba-tiba lampu kamar mandi menyala sendiri.
Dari bawah pintu…
terlihat cahaya berkedip cepat.
Lalu terdengar suara air mengalir deras.
Namun beberapa detik kemudian…
bau anyir mulai menyebar.
Santi menatap lantai.
Cairan merah gelap mengalir perlahan dari bawah pintu kamar mandi.
Bersamaan dengan itu…
terdengar suara garukan kuku panjang dari luar pintu kamar.
Sreeet…
Sreeet…
Sreeet…
Lambat.
Namun sangat dalam.
Kutukan itu nyata.
Dan seluruh kekayaan keluarga mereka…
dibayar dengan ketenangan jiwa.
Rahasia Pesugihan Gunung Kawi
Keesokan paginya, Santi menghubungi teman lamanya bernama Danu.
Seorang ahli sejarah kuno Jawa.
Setelah melihat foto isi buku itu…
wajah Danu langsung berubah.
“Ini pesugihan tingkat tinggi dari Gunung Kawi.”
“Ayahmu bukan sekadar meminjam kekayaan.”
“Dia menyerahkan seluruh garis keturunannya.”
“Setiap anak yang lahir dari darahnya sudah ditandai sejak dalam kandungan.”
Santi hampir kehilangan harapan.
“Bagaimana cara menghentikannya?”
Danu terdiam lama.
Lalu berkata pelan:
“Kamu harus kembali ke tempat perjanjian itu dibuat.”
“Kembalikan seluruh harta.”
“Dan bawa sesuatu yang sangat berharga.”
Ritual Pengembalian di Lereng Gunung Kawi
Malam itu juga Santi pergi menuju Gunung Kawi.
Membawa seluruh harta peninggalan ayahnya.
Perhiasan.
Dokumen.
Uang.
Semua harus dikembalikan.
Ia menitipkan anaknya pada Danu.
Perjalanan menuju lereng Gunung Kawi terasa sangat panjang.
Kabut tebal menyelimuti jalan.
Pohon-pohon besar tampak seperti raksasa yang mengawasi.
Saat tiba di pelataran keramat…
jam menunjukkan pukul satu dini hari.
Di tengah pelataran itu berdiri Pohon Dewandaru.
Batangnya hitam legam.
Ranting-rantingnya menjulur seperti tangan kurus.
Santi berlutut di bawah pohon.
Lalu menumpahkan seluruh harta ke tanah.
“Aku kembalikan semuanya!”
“Lepaskan keluargaku!”
Hening.
Lalu…
selembar daun jatuh tepat di atas tumpukan emas.
Udara mendadak membeku.
Asap putih keluar dari akar pohon.
Dan dari balik kabut itu…
muncul sosok tinggi membawa tongkat kayu.
Penagih Kawi Datang Menagih Jiwa
Sosok itu mengenakan pakaian adat Jawa kuno.
Tubuhnya tinggi kurus.
Wajahnya gelap tanpa bentuk.
Namun Santi bisa merasakan tatapan dingin menembus jiwanya.
Suara berat bergema langsung di dalam kepalanya.
“Harta bisa dikembalikan.”
“Tapi darah yang ditandai tidak bisa dihapus.”
“Janji harus dibayar dengan jiwa.”
Santi menangis histeris.
“Jangan anakku!”
“Ambil saja jiwaku!”
Bayangan hitam dari entitas itu mulai menyelimuti tubuh Santi.
Ia melihat penglihatan mengerikan.
Arwah ayahnya dirantai.
Dipaksa bekerja di ladang merah darah di dimensi lain.
Santi akhirnya sadar.
Pesugihan ini tidak pernah bisa dibatalkan dengan damai.
Entitas itu tidak menginginkan emas.
Mereka menginginkan pekerja baru.
Penutup
Dengan sisa tenaga terakhirnya…
Santi menggigit jarinya hingga mengeluarkan darah.
Ia mengusap darah itu ke buku catatan ayahnya.
Lalu berbisik:
“Jika jiwaku harus tertahan di sini…”
“Biarlah aku menjadi tumbal terakhir.”
Buku itu tiba-tiba terbakar api biru pekat.
Sosok Penagih Kawi mengeluarkan geraman mengerikan.
Energi hitam di sekitar Santi meledak.
Dan semuanya menjadi gelap.
Keesokan harinya…
anak perempuan Santi terbangun dengan tanda hitam di lengannya yang perlahan menghilang.
Kutukan tujuh turunan itu akhirnya terputus.
Namun…
Santi tidak pernah kembali.
Mobilnya ditemukan kosong di lereng Gunung Kawi.
Dan di tempat lain…
di balik kabut merah dimensi gelap…
Santi kini berjalan pelan bersama arwah ayahnya.
Leher mereka dirantai hitam.
Menjadi budak abadi…
penukar harta haram…
untuk selamanya.
Sekian cerita dari kami, semoga dapat menemani malam anda, baca juga cerita kami yang lain tentang Misteri Topeng Barong yang Terlupakan dan Dilarang Di Ungkap. Dengarkan cerita horor kuntilanak hitam dengan versi suasana yang lebih mencekam dan visual dark atmospheric khas Indonesia yang dibuat untuk membawa kamu langsung masuk ke dalam cerita di PODCAST atau YOUTUBE.
