Dengarkan cerita horor hantu pocong ini dengan versi suasana yang lebih mencekam dan visual dark atmospheric khas Indonesia yang dibuat untuk membawa kamu langsung masuk ke dalam cerita di PODCAST atau YOUTUBE.
SINOPSIS RUMAH HANTU DAN SOSOK DI BALIK TIRAI DAPUR
Tahun 2000.
Ardi, laki-laki 27 tahun, baru dua minggu menjadi penjaga malam kuburan desa setelah penjaga sebelumnya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kuburan itu berada di pinggir desa kecil yang mulai sepi sejak jalan utama dipindahkan ke kota sebelah.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Hanya suara daun basah.
Tanah lembab setelah hujan.
Dan kain putih yang kadang terlihat di antara nisan saat hampir subuh.
Warga desa selalu mengingatkan satu hal:
“Kalau dengar suara ikatan kain diseret… jangan menoleh.”
Ardi menganggap itu cuma cerita lama untuk menakut-nakuti penjaga baru. Sampai suatu malam, ia mulai mendengar suara langkah meloncat pelan dari area kuburan paling belakang… area yang sebenarnya sudah lama ditutup karena tanahnya sering bergerak sendiri setelah hujan.
Semakin malam, Ardi mulai sadar ada sesuatu yang berdiri di dekat nisan tua tanpa nama.
Diam.
Tidak bergerak.
Tapi setiap kali lampu senter Ardi mati sesaat… sosok itu selalu berpindah lebih dekat.
Dan yang paling mengganggu bukan wajahnya.
Melainkan suara napas berat dari balik kain basah itu… seperti ada seseorang yang masih hidup di dalam ikatan hantu pocong tersebut.
INTI CERITA RUMAH HANTU DAN SOSOK DI BALIK TIRAI DAPUR
Sekitar jam sebelas malam…
hujan baru saja berhenti ketika aku pertama kali menjaga kuburan itu sendirian.
Namaku Ardi.
Orang desa sebenarnya sudah mengingatkanku sejak sore untuk tidak terlalu lama berada di area belakang pemakaman setelah tengah malam. Tapi tidak ada yang benar-benar menjelaskan alasannya.
Mereka cuma bilang…
kalau mendengar suara kain basah diseret tanah… jangan pernah menoleh.
Waktu itu aku cuma menganggapnya cerita lama khas desa kecil.
Kuburan itu berada di pinggir desa… dekat rel kereta yang sudah jarang dilewati. Lampu jalan cuma ada satu. Itupun redup dan berkedip sejak magrib.
Malam terasa lembab sekali.
Tanah masih basah karena hujan. Bau rumput dan tanah kuburan bercampur jadi satu.
Aku duduk di pos kecil dekat gerbang sambil meminum kopi sachet yang mulai dingin.
Awalnya semuanya normal.
Hanya suara serangga malam…
dan sesekali angin yang membuat pohon pisang di belakang makam bergerak pelan.
Sampai hampir tengah malam…
lampu pos tiba-tiba redup sebentar.
Aku sempat mengira listrik desa turun lagi.
Tapi beberapa detik setelah itu…
aku mendengar suara aneh dari belakang kuburan.
Pelan.
Seperti kain basah yang diseret di atas tanah lumpur.
Sret…
sret…
sret…
Suara itu berhenti.
Lalu sunyi lagi.
Aku diam beberapa saat sambil mencoba mendengar lebih jelas.
Tidak ada apa-apa.
Aku akhirnya mengambil senter dan berjalan keluar pos.
Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya.
Langkah kakiku pelan melewati deretan nisan tua yang mulai dipenuhi lumut.
Beberapa makam bahkan sudah miring seperti hampir tenggelam ke tanah.
Suara itu muncul lagi.
Kali ini lebih dekat.
Sret…
sret…
Aku mengarahkan senter ke area belakang kuburan.
Kosong.
Hanya kabut tipis dan pohon bambu yang bergerak perlahan tertiup angin.
Lalu senterku berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Dan tepat saat cahaya senter melemah…
aku melihat sesuatu berdiri di antara dua nisan.
Putih.
Diam.
Terlalu tinggi untuk manusia biasa.
Jantungku langsung terasa berat.
Aku mencoba meyakinkan diri kalau itu cuma kain penutup makam yang tertiup angin.
Tapi sosok itu tidak bergerak sama sekali.
Aku melangkah mendekat.
Tanah becek membuat sandal yang kupakai beberapa kali hampir lepas.
Senterku mulai normal lagi.
Dan saat cahaya penuh mengenai area tadi…
Tidak ada siapa-siapa.
Aku langsung menghela napas panjang.
Mungkin aku terlalu tegang.
Aku berbalik untuk kembali ke pos.
Tapi baru beberapa langkah…
Suara itu muncul tepat di belakangku.
Sret…
Kali ini dekat sekali.
Sangat dekat.
Aku berhenti berjalan.
Tubuhku mendadak dingin.
Perlahan aku menoleh.
Dan di situlah pertama kali aku melihatnya dengan jelas.
Sosok hantu pocong berdiri kurang dari lima meter di belakangku.
Kain kafannya kotor dan basah.
Bagian bawahnya penuh lumpur hitam.
Kepalanya sedikit miring ke kiri.
Dan meski wajahnya tertutup kain…
aku bisa melihat bentuk mata gelap dari balik lipatan basah itu.
Aku tidak bisa bergerak.
Bahkan untuk bernapas rasanya sulit.
Hantu pocong itu diam.
Tidak meloncat.
Tidak mendekat.
Hanya berdiri sambil menghadap lurus ke arahku.
Lalu perlahan…
kepalanya bergerak sedikit.
Seperti seseorang yang sedang memperhatikan wajahku lebih dekat.
Senter di tanganku tiba-tiba mati total.
Gelap.
Semua langsung gelap.
Aku panik memukul badan senter berkali-kali.
Dan di tengah gelap itu…
aku mulai mendengar suara napas.
Berat.
Dekat sekali.
Bukan dari depanku.
Tapi tepat di samping telingaku.
Aku langsung menyalakan senter lagi.
Cahayanya menyala mendadak.
Dan hantu pocong itu… sudah tidak berada di depan.
Aku memutar tubuh cepat sambil mengarahkan cahaya ke segala arah.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Tapi lumpur di tanah menunjukkan bekas seperti sesuatu baru saja diseret mengelilingiku.
Aku mundur perlahan.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu dari arah belakang area makam tua…
terdengar suara loncatan pelan.
Bugh…
Bugh…
Bugh…
Tidak cepat.
Justru terlalu pelan.
Seolah sesuatu itu sengaja ingin aku mendengar setiap gerakannya.
Aku mengarahkan senter ke arah suara.
Dan kali ini…
aku melihat lebih dari satu.
Di antara kabut dan nisan tua…
ada beberapa sosok putih berdiri berjajar.
Diam.
Menghadap ke arahku.
Aku tidak tahu sejak kapan mereka ada di sana.
Yang membuatku semakin takut…
semua kepala mereka perlahan miring bersamaan.
Seperti sedang mendengarkan sesuatu.
Lampu kuburan tiba-tiba mati total.
Gelap kembali.
Dan untuk beberapa detik…
tidak ada suara apa pun selain napasku sendiri.
Sampai akhirnya…
suara kain basah itu terdengar mengelilingiku dari segala arah.
Sret…
Sret…
Sret…
Aku langsung berlari menuju pos penjaga.
Tanah licin membuatku beberapa kali hampir jatuh.
Tapi suara loncatan itu terus mengikuti dari belakang.
Lebih cepat sekarang.
Bugh…
Bugh…
Bugh…
Aku bisa mendengar kain basah menghantam tanah.
Semakin dekat.
Aku hampir mencapai pos ketika tiba-tiba suara itu berhenti total.
Sunyi.
Aku berdiri sambil terengah-engah.
Lalu perlahan…
aku melihat ke arah pos penjaga.
Pintu pos terbuka sedikit.
Padahal sebelumnya kututup rapat.
Lampu di dalam berkedip redup.
Dan ada seseorang berdiri di dalam pos.
Diam.
Menghadap ke arah pintu.
Tubuhnya terbungkus kain putih basah.
Aku mundur perlahan.
Tapi dari belakang…
terdengar suara loncatan lain.
Dekat sekali.
Aku sadar saat itu…
aku sudah dikelilingi.
Dan sampai sekarang…
aku masih tidak tahu…
mana yang pertama kali kulihat malam itu.
Karena menurut warga desa…
kuburan belakang memang sudah lama tidak dipakai sejak penjaga sebelumnya ditemukan menghilang tanpa jejak.
Tapi yang paling membuatku tidak pernah kembali ke tempat itu…
adalah satu hal.
Waktu aku lari meninggalkan kuburan hampir subuh…
aku sempat menoleh ke arah gerbang.
Dan semua sosok hantu pocong itu…
sudah berdiri diam menghadap ke arah jalan keluar.
Seolah mereka tahu…
aku akan kembali lagi suatu malam nanti.
Sekian cerita dari kami, semoga dapat menemani malam anda, baca juga cerita kami yang lain tentang Rumah Hantu dan Sosok di Balik Tirai Dapur.
