Pamali Menyisir Rambut di Malam Hari Yang Ternyata Benar

Pamali Menyisir Rambut di Malam Hari Yang Ternyata Benar

Dengarkan cerita horor ini dengan versi suasana yang lebih mencekam dan visual dark atmospheric khas Indonesia yang dibuat untuk membawa kamu langsung masuk ke dalam cerita di PODCAST atau YOUTUBE.

Sinopsis Pamali Menyisir Rambut di Malam Hari Yang Ternyata Benar

Seorang perempuan bernama Nadia kembali ke rumah neneknya di desa setelah bertahun-tahun pergi. Rumah tua yang dulu selalu terasa terlalu sunyi itu perlahan memunculkan kembali ketakutan masa kecil yang pernah ia lupakan. Saat sebuah pamali lama dilanggar, Nadia mulai mendengar suara sisir lain yang mengikuti setiap gerakannya di tengah malam.

Semakin hari, suasana rumah menjadi semakin tidak nyaman. Sosok perempuan berambut panjang mulai muncul di pantulan cermin, lorong gelap, dan sudut rumah yang seharusnya kosong. Nadia akhirnya menyadari bahwa sesuatu telah ikut masuk ke dalam hidupnya, dan teror itu tidak akan berhenti hanya karena ia menutup mata atau menjauh dari cermin.


Inti Cerita Pamali Menyisir Rambut di Malam Hari Yang Ternyata Benar

Namanya Nadia.

Sudah hampir delapan tahun dia tidak pernah kembali ke rumah neneknya di desa itu.

Sebuah desa kecil di pinggir perkebunan teh yang udaranya selalu terasa dingin setelah matahari tenggelam.

Rumah neneknya berdiri paling ujung.

Dekat pohon bambu tua dan jalan tanah yang hampir tidak pernah dilewati kendaraan malam-malam.

Waktu kecil dulu, Nadia paling tidak suka kalau harus menginap di sana.

Bukan karena rumahnya jelek.

Bukan juga karena listriknya sering mati.

Tapi karena rumah itu selalu terasa terlalu sunyi.

Sunyi yang aneh.

Seolah suara sekecil apa pun bisa terdengar sangat jelas di dalam rumah kayu itu.

Kalau malam hujan turun, suasananya jadi lebih tidak nyaman lagi.

Kayu-kayu tua di atap sering berbunyi sendiri.

Kadang terdengar seperti ada yang berjalan pelan di lorong belakang.

Kadang seperti ada pintu yang dibuka perlahan… lalu ditutup lagi.

Padahal semua orang sudah tidur.

Dulu Nadia sering menutup telinga pakai bantal supaya bisa tidur lebih cepat.

Tapi setiap kali dia mulai hampir terlelap…

selalu ada suara kecil lain yang membuat matanya terbuka lagi.

Entah suara kursi bergeser.

Entah suara air menetes dari dapur.

Atau suara sisir kayu dari kamar neneknya.

Krek…

Krek…

Krek…

Pelan.

Teratur.

Dan selalu terdengar hampir tengah malam.

Waktu itu Nadia pernah bertanya ke neneknya.

“Nenek belum tidur?”

Tapi neneknya malah terlihat bingung.

Karena malam itu… neneknya tidak menyisir rambut sama sekali.

Sejak kecil Nadia sering mendengar satu larangan yang selalu diulang neneknya.

Jangan pernah menyisir rambut malam-malam.

Pamali.

Kalau melanggar… ada yang ikut menyisir dari belakang.

Nadia tidak pernah benar-benar percaya.

Menurutnya itu cuma cerita orang tua supaya anak kecil cepat tidur.

Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian… Nadia kembali lagi ke rumah itu.

Ibunya menelepon tiga hari sebelumnya.

Kata ibunya, kondisi nenek mulai menurun.

Beliau lebih sering diam.

Kadang bicara sendiri tengah malam.

Kadang berdiri lama di depan cermin tanpa bergerak.

Awalnya Nadia mengira itu cuma karena usia.

Jadi dia memutuskan pulang beberapa hari.

Perjalanan menuju desa terasa jauh sekali.

Semakin mendekati rumah neneknya… jalanan semakin sepi.

Kabut mulai turun pelan dari area kebun.

Dan entah kenapa… Nadia mulai merasakan perasaan tidak nyaman yang dulu pernah dia rasakan waktu kecil.

Rumah itu masih sama.

Cat dindingnya mulai mengelupas.

Pintu kayunya masih berbunyi keras setiap dibuka.

Dan udara lembab khas rumah tua itu masih terasa sangat kuat.

Jam dinding tua di ruang tengah masih berdetak pelan.

Tik…

Tok…

Tik…

Tok…

Suara itu terasa jauh lebih keras saat malam datang.

Hari pertama tidak terjadi apa-apa.

Hari kedua juga masih normal.

Nadia membantu ibunya membersihkan rumah.

Mengganti tirai lama.

Merapikan kamar nenek.

Kadang dia sempat melihat neneknya melamun sendirian sambil menatap cermin kecil di ruang makan.

Tapi setiap kali Nadia mendekat… neneknya langsung mengalihkan pandangan.

Baru malam ketiga Nadia mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Hujan turun deras sejak magrib.

Angin membuat jendela belakang terus bergetar pelan.

Listrik sempat mati hampir satu jam.

Rumah itu jadi gelap total.

Hanya ada cahaya lilin kecil di ruang tengah.

Malam itu Nadia sulit tidur.

Udara terasa panas dan lembab sekali.

Bajunya sampai basah oleh keringat.

Akhirnya hampir tengah malam Nadia memutuskan mandi sebentar.

Air kamar mandi terasa dingin.

Terlalu dingin.

Bahkan setelah keran ditutup… Nadia masih merasa seperti ada air yang terus menetes di belakangnya.

Tapi waktu dia menoleh…

Tidak ada apa-apa.

Setelah selesai mandi, Nadia kembali ke kamar sambil mengeringkan rambutnya perlahan.

Rumah sudah benar-benar sepi.

Ibunya tidur di kamar depan.

Neneknya juga sudah tidur sejak tadi.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada suara kendaraan dari luar.

Cuma suara hujan… dan tetesan air dari dapur belakang.

Di sudut kamar Nadia masih ada cermin tinggi lama yang dulu selalu ditutup kain putih.

Malam itu kain penutupnya terbuka setengah.

Entah siapa yang membukanya.

Nadia duduk pelan di depan cermin sambil mengambil sisir kayu lama di meja.

Sisir milik neneknya dulu.

Kayunya sudah kusam.

Beberapa giginya sedikit patah.

Nadia mulai menyisir rambutnya perlahan.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Krek…

Krek…

Krek…

Awalnya normal.

Sampai Nadia sadar…

ada suara lain yang mengikuti.

Bukan gema.

Bukan pantulan suara dari kamar mandi.

Suara sisiran kedua.

Sedikit terlambat dari gerakan tangannya.

Pelan.

Tepat dari belakang kepalanya.

Nadia langsung berhenti.

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Pelan-pelan Nadia mengangkat pandangan ke arah cermin.

Dan untuk sepersekian detik…

dia melihat sesuatu berdiri di belakang kursinya.

Rambut hitam panjang.

Basah.

Menggantung sampai menutupi wajah.

Nadia langsung menoleh cepat ke belakang.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya lorong kamar yang gelap.

Dan suara hujan yang semakin deras.

Nadia mencoba tertawa kecil menenangkan dirinya sendiri.

Mungkin cuma lelah.

Mungkin pikirannya belum benar-benar tenang.

Dia kembali duduk.

Lalu mulai menyisir rambutnya lagi.

Krek…

Krek…

Krek…

Dan suara kedua itu kembali muncul.

Sekarang lebih jelas.

Lebih dekat.

Seolah ada seseorang yang berdiri tepat di belakang Nadia… sambil mengikuti gerakan sisirnya.

Napas Nadia langsung tertahan.

Bulu kuduknya perlahan naik.

Lalu samar-samar…

di pantulan cermin…

ada tangan pucat muncul pelan di belakang bahunya.

Jari-jarinya panjang.

Kukunya hitam dan retak.

Nadia berdiri cepat sampai kursinya jatuh keras ke lantai.

Tapi waktu dia menoleh…

tidak ada apa-apa.

Malam itu Nadia tidak tidur sama sekali.

Besok paginya dia menceritakan semuanya ke ibunya.

Dan untuk pertama kali… wajah ibunya langsung berubah pucat.

“Semalam kamu nyisir rambut?”

Nadia mengangguk pelan.

Ibunya langsung diam beberapa detik sebelum buru-buru menutup pintu dapur belakang.

Seolah takut ada sesuatu yang mendengar pembicaraan mereka.

“Nenek kamu dulu paling melarang itu…”

“Pamali nyisir rambut malam-malam.”

Sejak hari itu… suasana rumah mulai terasa berubah.

Kadang Nadia mendengar suara langkah pelan dari lorong kosong.

Kadang ada rambut panjang basah di lantai kamar mandi.

Kadang pintu belakang tiba-tiba terbuka sendiri hampir subuh.

Dan setiap malam…

suara sisiran itu mulai terdengar lagi.

Krek…

Krek…

Krek…

Kadang dari kamar kosong sebelah.

Kadang dari ruang makan.

Kadang tepat dari belakang pintu kamar Nadia.

Sampai suatu malam… Nadia memberanikan diri membuka kamar kosong di samping kamarnya.

Gelap.

Dingin.

Udara di dalam kamar itu terasa lembab sekali.

Di depan cermin tua dekat lemari…

ada sisir kayu tergeletak sendiri.

Masih ada rambut hitam panjang basah menempel di sela-selanya.

Dan sejak malam itu…

Nadia mulai sering melihat perempuan itu di cermin.

Selalu berdiri di belakangnya.

Diam.

Tidak bergerak.

Wajahnya tertutup rambut panjang kusut.

Tubuhnya terlalu pucat.

Kadang sosok itu hanya muncul beberapa detik.

Kadang lebih lama.

Kadang Nadia bahkan melihat pantulannya masih ada… meski Nadia sudah berpaling dari cermin.

Sampai akhirnya Nadia sadar sesuatu yang membuat tubuhnya langsung dingin.

Pantulan perempuan itu…

tidak pernah mengikuti gerakan ruangan.

Saat Nadia berdiri…

sosok itu tetap diam.

Saat Nadia mundur…

sosok itu malah terlihat semakin dekat.

Sejak itu Nadia berhenti bercermin malam-malam.

Dia juga tidak pernah lagi menyisir rambut setelah isya.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Karena sekarang…

sosok itu mulai muncul bahkan tanpa cermin.

Kadang berdiri di ujung lorong.

Kadang terlihat sekilas lewat pintu dapur.

Kadang terdengar sedang menyisir rambut tepat di belakang kamar Nadia.

Dan yang paling membuat Nadia tidak bisa tidur sampai sekarang…

Suatu malam hampir subuh…

dia terbangun karena mendengar suara ibunya bicara pelan di dapur.

Lampu rumah mati.

Lorong hanya diterangi cahaya samar dari luar jendela.

Nadia berjalan perlahan mendekati dapur.

Lantai kayu terasa dingin di telapak kakinya.

Suara itu masih terdengar.

Pelan.

Seperti seseorang sedang tertawa kecil sambil berbisik.

Waktu Nadia sampai di depan dapur…

dia melihat ibunya berdiri membelakangi pintu.

Diam di depan cermin kecil dekat kulkas.

Sedang menyisir rambutnya perlahan.

Krek…

Krek…

Krek…

Dan tanpa menoleh sedikit pun…

ibunya berbisik pelan.

“Kalau sudah mulai melihat dia…”

“Jangan pernah berhenti menyisir.”

Karena kalau berhenti…

dia akan berdiri tepat di belakangmu.

Sekian cerita dari kami, semoga dapat menemani malam anda, baca juga cerita kami yang lain tentang Hantu Pocong Itu Berdiri Dekat Kuburan Lama.

Leave a Comment